BLOG

&

POST

EL CAMINO: ZIARAH IMAN BERSAMA MEMBANGUN PENGHARAPAN

March 1, 2026

Taman Doa Maria Oblat Blotan – Gua Maria Sendangsono

“Dalam diri Maria kita melihat contoh iman Gereja dan iman kita sendiri [...] kita akan berupaya menyebarluaskan Devosi sejati kepada Perawan Tak Bernoda [...].” (Konstitusi OMI, No. 10)

Kutipan dari Konstitusi Nomor 10 inilah yang menjadi lentera bagi seluruh perjalanan El Camino, sejak masih berupa gagasan hingga ia terwujud dalam langkah kaki para peziarah. Kalimat ini bukan sekadar motto, melainkan sebuah inti spiritual yang meresapi setiap denyut nadi kegiatan. Ia mengingatkan kita bahwa Maria bukanlah tujuan akhir, melainkan cermin yang sempurna. Dalam dirinya, kita melihat bagaimana iman Gereja, dan iman kita pribadi seharusnya tampak: total, penuh kepercayaan, dan berujung pada penyerahan diri kepada Kristus.

Apa Itu El Camino? Sebuah Jalan yang Menjadi Doa

El Camino, atau El Camino de Santiago (Jalan Santo Yakobus), adalah sebuah jaringan rute ziarah kuno yang berpuncak di makam Rasul Yakobus di Santiago de Compostela, Spanyol. Namun, El Camino lebih dari sekadar rute fisik. Secara spiritual, ia adalah metafora indah tentang perjalanan hidup manusia menuju Allah. Ia mengajarkan bahwa iman tidak hanya dihayati di dalam gereja, tetapi juga ditempa di jalan raya, dalam peluh, dalam keheningan langkah, dan dalam kebersamaan dengan sesama peziarah. Nilai-nilai seperti pengorbanan, kesederhanaan, pembaruan batin, dan solidaritas menjadi santapan jiwa selama menapaki jalan setapak yang penuh berkat.

Mengapa Kami Berjalan? Panggilan Peziarah Pengharapan

Semangat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai ziarah inilah yang mendorong Komunitas Skolastikat OMI untuk mengadakan El Camino dalam versi lokalnya, dari Taman Doa Maria Oblat di Blotan menuju Gua Maria Sendangsono.

Tindakan ini lahir sebagai respons komunitas atas perjalanan kongregasi kami yang tengah diterangi oleh tema Akta Kapitel Umum ke-36, yaitu “Peziarah Pengharapan Dalam Persekutuan”. Tema ini secara providential sejajar dengan tema Tahun Yubelium Gereja Universal. Menjadi "Peziarah Pengharapan" berarti mengakui bahwa kita semua sedang dalam perjalanan, in via. Kita belum sampai di rumah Bapa. Kita berjalan bersama Umat Allah, bukan sebagai pemimpin yang tahu segalanya, melainkan sebagai rekan sekerja, sebagai sahabat dalam misi pewartaan Kabar Baik. Harapan itu sendiri lahir dari kedekatan yang intim dengan Yesus, Sang Guru Sejati. Dan dalam hal mencintai pelayanan Putranya, Maria adalah teladan yang tak tertandingi. Ialah yang pertama dan terbaik dalam mengikuti Yesus di jalan salib dan jalan kemuliaan.

Briefing di Taman Maria Oblat, Novisiat OMI
Foto Bersama di Taman Maria Oblat, Novisiat OMI

Makna Start dan Finish: Sebuah Kilas Balik Sejarah Iman

Titik start dan finish dipilih bukan tanpa alasan. Rm. Widi OMI, dalam renungan singkatnya sebelum pemberangkatan, menegaskan makna teologis yang dalam: perjalanan ini adalah sebuah kilas balik sejarah iman. Kami memulai dari Taman Doa Maria Oblat Blotan, sebuah tempat doa yang relatif baru, namun sarat dengan kisah iman komunitas OMI yang terus bertumbuh. Taman ini melambangkan iman yang sedang ditabur dan dirawat di masa kini, sebuah fondasi yang masih muda namun kokoh karena berakar pada devosi kepada Bunda.

Dari sana, kami berjalan menuju Gua Maria Sendangsono. Tempat ini adalah salah satu lokus ziarah tertua dan paling bersejarah di Jawa, bahkan di Indonesia. Sendangsono adalah saksi bisu bagaimana iman akan Kristus berakar, bertumbuh, dan melahirkan begitu banyak buah rohani dalam diri umat, melalui teladan Maria dan cinta akan Gereja. Jadi, perjalanan 26,8 km ini adalah sebuah napak tilas iman, dari masa kini menuju akar sejarah, untuk belajar bagaimana para pendahulu kita beriman dan mencintai.

Laboratorium Kehidupan dan Iman

Tepat pukul 05.30, setelah doa bersama dan renungan singkat, 30 peziarah dari berbagai daerah (Jakarta, Yogyakarta, Salatiga, Klaten) bersama para Romo, Frater, dan Bruder OMI, memulai langkah pertama.

Cuaca pagi yang cerah dan kemudian berubah menjadi panas terik di siang hari, saya maknai sebagai sebuah laboratorium kehidupan. Ada saatnya jalan terasa mudah, ada saatnya terjal. Ada sukacita saat melewati pemandangan sawah yang hijau, ada dukacita saat kaki mulai lecet dan tenaga mulai habis. Ada untung ketika mendapatkan teman bicara yang asyik, ada malang ketika harus berjalan sendirian untuk beberapa waktu. Semua rasa dan suasana itu menjadi bagian dari proses pendewasaan iman. Titik-titik pemberhentian (Alun-alun Denggung untuk sarapan, Jl. Banyurejo-Tempel untuk snack, dan Jembatan Duwet untuk makan siang) bukan sekadar tempat istirahat fisik. Di situlah laboratorium iman bekerja. Di sana, kami berbagi bekal, saling menunggu, dan saling menguatkan. Solidaritas tidak hanya diomongkan, tetapi dipraktikkan: air minum ditawarkan, plester luka dibagi, dan tawa canda menjadi vitamin bagi jiwa yang lelah.

Salah satu momen paling berkesan adalah percakapan dengan sepasang suami istri. Mereka mengaku bahwa di tengah kesibukan hidup sehari-hari, mereka jarang memiliki waktu berkualitas bersama. Di jalan setapak El Camino, mereka justru mendapatkannya kembali. Mereka saling menolong melewati jalan bebatuan, saling memperhatikan saat salah satu kelelahan, dan dalam heningnya langkah, mereka merefleksikan berkat Tuhan dalam keluarga mereka. Mereka bersaksi bahwa cinta kasih Kristus selalu memberkati bahtera rumah tangga mereka, dan keibuan Maria menjadi teladan yang mereka adopsi untuk menjaga relasi tetap hangat. Saya, sebagai seorang frater, merasa sedang diinjili oleh kesaksian hidup mereka. Iman tidak hanya diajarkan dari mimbar, tetapi justru seringkali bersinar terang dari pengalaman umat sehari-hari.

Rahmat Pemurnian dan Pembaptisan Ulang

Sekitar pukul 15.00, ketika kami baru menyisakan 3 kilometer lagi menuju Sendangsono, langit yang tadinya cerah mendadak berubah. Hujan deras disertai angin kencang mengguyur tanpa ampun. Tubuh yang sudah lelah diguyur air dingin, menggigil.

Di sinilah, dalam kepasrahan total, doa saya melesat, “Tuhan, saya tidak layak Engkau datangi dalam keadaan basah dan kuyup ini, tetapi bersabdalah saja, maka hatiku akan sembuh.” Sebuah adaptasi dari doa perwira di Kapernaum. Hati saya sontak digenapi damai. Saya merefleksikan momen ini sebagai sebuah gambaran sempurna tentang pemurnian.

Sepanjang perjalanan yang panjang dan melelahkan, mungkin ada debu-debu keangkuhan yang menempel, ada luka lama yang belum sembuh, bahkan mungkin ada “dosa-dosa kecil” dalam bentuk keluhan dan rasa frustasi. Hujan deras itu datang, membasuh segalanya. Bukan untuk membuat kami semakin sengsara, tetapi untuk menyucikan. Ia seperti mengingatkan kami akan rahmat baptisan yang pernah kami terima: rahmat pengampunan dosa asal, yang menjadikan kami kudus dan layak untuk akhirnya dapat menghadap Allah. Setelah dibersihkan oleh air hujan, kami pun melangkah dengan tubuh yang basah namun hati yang lega, suci kembali untuk bertemu dengan Yang Tersuci dalam Ekaristi.

Semangat Pelayanan: Persiapan yang Mendadak, Berkat yang Berlimpah

Tidak jujur rasanya jika hanya bercerita tentang kemeriahan acara, tanpa menyebut perjuangan di balik layar. Persiapan El Camino terbilang sangat mendadak. Waktu yang singkat menuntut koordinasi dan komunikasi yang kuat di antara kami, para frater dan bruder. Di sinilah kami merasakan penghayatan Konstitusi Nomor 39 menjadi nyata:

“Semangat Persaudaraan dalam satu komunitas; semangat kesederhanaan dan kegembiraan dengan saling berbagi diri dari apa yang kita miliki, [...] untuk melayani seluruh anggota komunitas.”

Karena waktu yang sempit, kami terpaksa saling berbagi bakat dan pengetahuan. Ada yang jago membuat proposal, sigap mengurus perizinan. Ada yang telaten menyiapkan konsumsi dan logistik. Ada yang kreatif membuat tanda arah. Ada yang bertugas sebagai tim medis siaga. Bahkan dalam waktu yang sesingkat-singkat itu ada rekan-rekan kaum muda (PPDM) yang bersedia terlibat dalam koordinasi acara. Apa yang kami lakukan adalah wujud pelayanan kepada komunitas. Apa yang lahir dari sikap pelayanan yang tulus ini? yang bahkan mungkin tidak kami sadari sepenuhnya, pada akhirnya menjadi terang dan kesaksian hidup bagi umat yang berjalan bersama kami. Mereka tidak hanya melihat kami sebagai “Romo, Bruder, Frater dan PPDM”, tetapi sebagai saudara yang mau bersusah payah, berkeringat, dan bekerja keras agar mereka dapat mengalami Tuhan dalam perjalanan ini.

Usai Misa di Gua Maria Sendangsono

Persembahan Syukur di Altar Maria

Tentu ada begitu banyak pengalaman iman lainnya yang tidak tertuang di sini. Setiap peziarah membawa pulang ceritanya masing-masing. Namun, satu benang merah yang menyatukan kami semua adalah: sukacita dan cinta yang besar kepada Gereja dan kepada sesama, yang terbungkus indah dalam balutan peziarahan bersama. Kelelahan, kesusahan, tawa, dan canda, semua dinamika hidup di dunia ini, kami persembahkan kembali kepada Kristus. Kami belajar untuk mempersembahkannya melalui jalan kekudusan Maria, Bunda yang selalu mengajarkan, “Apa yang dikatakan Yesus kepadamu, lakukanlah itu!” (Yoh 2:5).

Puncak dari seluruh rangkaian ini adalah Perayaan Ekaristi yang meriah di Kapela Gua Maria Sendangsono pada pukul 18.00. Dalam perjamuan kudus itu, roti dan anggur dipersembahkan, begitu pula perjalanan, peluh, doa, dan harapan kami. Tubuh yang lelah seolah dipulihkan oleh Tubuh dan Darah Kristus. Wajah-wajah yang penat berubah sumringah, penuh cerita iman yang akan menjadi bekal dan kesaksian di tengah kehidupan bermasyarakat masing-masing.

El Camino perdana telah usai, tetapi perjalanan iman sebagai Peziarah Pengharapan terus berlanjut. Bunda Maria, doakanlah kami.

Terima kasih telah menjadi partner perjalanan yang baik. Tuhan Yesus memberkati.

LCJ et MI

Oleh: Fr. Blasius Yohanes Berkmans Sura OMI

SEMUA BERITA
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram