Sdr. Justin PPdM
Hallo, rekan-rekan muda ! Sebagai anak muda kamu harus selalu menjaga semangat, di tengah berbagai tantangan dan dinamika dunia. Yang paling penting temukanlah cahaya rohani yang akan menyinari langkahmu. Dalam hal ini cahaya itu bukan sekedar penerang di gelap malam, tetapi juga sumber kekuatan, kedamaian, dan inspirasi dalam setiap aksi yang kamu buat. Seperti cahaya terang dan hangat yang terpancar dari Gua Sriningsih saat ziarah Putra-Putri De Mazenod (PPDM) yogyakarta tidak hanya menerangi tempat yang suci, tetapi juga hati dan jiwa.

Dalam hal ini komunitas Putra-Putri De Mazenod (PPDM) Yogyakarta, sebagai wadah bagi generasi muda yang ingin semakin mendalami iman dan spritualitas. Secara aktif mengembangkan berbagai program rohani, salah satu kegiatan yang dirancang oleh divisi kerohanian bersama pengurus Putra-Putri De Mazenod (PPDM) yogyakarta yaitu ziarah rohani. Sebelum itu mungkin banyak juga orang yang bertanya Putra-Putri De Mazenod (PPDM) itu apa ya??. Nahh Komunitas Putra-Putri De Mazenod adalah sebuah kelompok yang terdiri dari anak-anak muda yang tergabung dalam keluarga besar Misionaris Oblat Maria Imakulata (OMI), bisa dibilang mereka OMK-nya OMI. Mereka adalah generasi penerus yang berkomitmen untuk menghidupkan nilai-nilai spritualitas dan misi yang diajarkan oleh Santo Eugenius dengan spirit melayani yang tak terlayani. Putra-Putri De Mazenod (PPDM) bukan hanya sekedar komunitas biasa melainkan ruang pembinaan dan pengembangan iman untuk mendukung pertumbuhan rohani, solidaritas, serta karya nyata bagi masyarakat sekitar. Nahh itu lah pengenalan singkat dari Putra-Putri De Mazenod (PPDM).
Lanjut ke program ziarah rohani kami pada tanggal 26 Oktober 2025, untuk memulai perjalanan ziarah kami titik kumpulnya di WDM pukul 09.00. setelah itu sebelum melankah terlebih dahulu menuju tujuan utama yaitu Gua Sriningsih, kami doa bersama yang dipimpin oleh sodari Dewi agar perjalanan kami lancar. Kami berangkat menggunakan motor dan sebagian teman-teman naik dimobil bersama dua frater yaitu frater Ibau dan frater Nikolaus, walaupun cuacanya awan berwarna abu-abu yang baru selesai hujan dan masih gerimis namun semangat kami untuk menjalankan ziarah rohani tidak surut sedikit pun. Sebuah pengalaman bersama teman-teman orang muda katolik, untuk melakukan perjalanan batin agar dapat menguatkan dan menyegarkan iman. Ziarah rohani bukan hanya sebagai perjalanan fisik menuju tempat-tempat suci seperti Gua Sriningsih, tetapi juga sebagai sarana refleksi diri, penguatan nilai-nilai kebersamaan, dan pembaruan semangat dalam menjalani hidup sehari-hari.
Saat sampai di Gua Sendang Sriningsih, kami bertemu banyak orang dan kebetulan ada kegiatan misa dari Komunitas Jomblo Katolik (KJK). Setelah itu kami juga disambut ramah oleh pak Tono, sekaligus yang mengarahkan kami pada tempat kami Doa Rosario di taman doa Bunda Maria. Yang terletak di Dusun Jali, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewah Yogyakarta. Taman doa sriningsih, atau lebih dikenal dengan Gua Maria Sendang Sriningsih ini didirikan oleh seorang Pastor Jesuit Romo D. Hardjosuwondo SJ tahun 1934. Dalam penemuan dan pembangunan pada tahun 1934, Pastor Hardjosuwondo SJ yang bertugas di Dusun Jali menemukan sebuah sendang yang memiliki aura spiritual kuat. Lalu ia membangun tempat itu menjadi tempat ziarah. Nama Sriningsih sendiri memiliki arti yaitu “Perantara Rahmat Tuhan Kepada Umat-nya”. Setelah kami selesai berdoa sebelum kami melanjutkan kegiatan selanjutnya, kami tidak lupa berfoto juga, sebagai bukti kegiatan dan kenang-kenangan.
Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menuju rumah pak Tono, tempat yang menjadi ruang hangat bagi kami untuk berkumpul. Setiba dirumah pak Tono kami disambut dengan suasana penuh kehangatan dan kedamaian yang langsung membuat rasa lelah selama perjalanan seketika hilang. Tak hanya itu, kami juga dihidangkan dengan berbagai hidangan. Yang disiapkan dengan penuh perhatian oleh keluarga pak Tono dan istrinya serta ibu Romo Santo, yang dengan tulus menerima dan menyambut kami.
Di tengah kehangatan, kami tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada keluarga Pak Tono bersama dengan pendamping kami, sebagai ungkapan rasa syukur atas keramahan dan dukungan yang telah diberikan. Sembari menikmati hidangan saat dimulai sesi materi pengenalan spritualitas OMI yang disampaikan oleh Frater Ibau, Frater Nikolaus, dan Bruder Dhope. Materi yang dibawahkan, membawah kami lebih jauh untuk mengenal dasar hidup dan pelayanan Misionaris Oblat Maria Imakulata (OMI). Melalui penjelasan-penjelasan untuk mengenal Santo Eugenius, dalam hal ini mengajak kami membuka mata hati untuk memahami panggilan hidup yang berlandasan Cinta Kasih, Pengorbanan, serta Komitmen untuk melayani sesama.

Saya coba rasakan dan renungkan bahwa ziarah kami yang sederhana ini. Walaupun begitu, saya tetap merasa bahagia dengan momen ini. Sehingga ziarah ini mengajak hati untuk berhenti sejenak dari derasnya arus kehidupan dan menatap lebih dalam pada cahaya rohani yang senantiasa menyinari jalan kita.
Selain itu, saya juga sadar bahwa beranjak dewasa setiap orang perlu mengalokasikan waktu untuk hiburan sebagai bagian dari keseimbangan hidup. Namun ziarah ini memberikan makna yang lebih dalam, karena dengan ziarah ini cara untuk menemukan relung hati dengan kedamaian dan cahaya dalam kegelapan, semangat dalam setiap langkah. Sebagai anak muda yang percaya akan kasih dan penyertaan Tuhan yang tak pernah berakhir, pengalaman ini menjadi pengingat untuk selalu menjaga keseimbangan antara kebahagiaan duniawi dan kekuatan spritual yang menyertai perjalanan hidup kita.