BLOG

&

POST

“Menepi Sejenak di Rawaseneng: Menemukan Ketenangan dalam Kesibukan”

November 10, 2025

Fr. Birinus Mahendra Malangan OMI

Kami sangat bersyukur atas kesempatan untuk menikmati kebersamaan spiritual dalam komunitas melalui rekoleksi bulanan. Rekoleksi menjadi momen yang berharga untuk berhenti sejenak dari rutinitas perkuliahan dan kegiatan komunitas yang padat. Dalam keheningan dan kebersamaan itu, kami belajar kembali menemukan bagaimana Tuhan tetap berkarya di tengah kesibukan kami sebagai mahasiswa dan calon religius. Di tengah arus kegiatan yang sering membuat hati lelah, rekoleksi menjadi waktu istimewa untuk memperbarui arah pandangan dan menata kembali relasi kami dengan Tuhan.

Setiap awal bulan, komunitas Skolastikat OMI memiliki kebiasaan untuk melaksanakan rekoleksi bersama. Kali ini, Romo Eko selaku rektor Skolastikat bersama para bidel mengajak seluruh anggota komunitas untuk mengadakan rekoleksi di Rawaseneng, tepatnya di Pertapaan Biara OCSO. Tempat itu memberikan suasana yang tenang, sejuk, dan penuh kedamaian. Udara pegunungan yang bersih serta lingkungan biara yang sunyi menjadi ruang yang sangat mendukung bagi kami untuk menikmati keheningan dan memperdalam doa. Di sana, kami diajak untuk berefleksi melalui tema “Healing bersama Tuhan.”

"Healing bersama Tuhan" di Pertapaan Santa Maria Rawaseneng, Jawa Tengah

Dalam sesi rekoleksi, Romo Eko mengarahkan kami pada satu kutipan Kitab Suci yang sangat menyentuh hati, yaitu Markus 6:31:

“Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’”

Ayat ini menjadi sangat relevan bagi kami sebagai mahasiswa yang sering tenggelam dalam tugas, bacaan, dan aktivitas komunitas. Tuhan mengundang kami untuk beristirahat, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin, agar kami mampu mendengar kembali suara-Nya. Dalam kesunyian Rawaseneng, kami merasa diajak untuk menyadari kembali pentingnya mengambil jarak dari hiruk-pikuk aktivitas supaya dapat menemukan kehadiran Tuhan yang bekerja dalam setiap peristiwa hidup.

Konstitusi dan Aturan OMI Nomor 33 juga menjadi pengingat penting dalam rekoleksi ini. Di sana ditegaskan bahwa kehidupan doa merupakan dasar dari seluruh hidup dan perutusan seorang Oblat. Melalui doa, Sabda Allah, dan Ekaristi, seorang Oblat menemukan kekuatan untuk melanjutkan karya perutusannya. Selama di biara OCSO, kami menyaksikan secara nyata bagaimana para rahib hidup dalam kesetiaan doa harian, ibadat, dan kerja sederhana. Doa harian yang mereka jalani dengan disiplin menjadi kesaksian nyata tentang hidup yang berpusat pada Tuhan. Selain itu, suasana doa hening dan particular examen juga membantu kami secara pribadi untuk mengenali kembali kehadiran Tuhan di sepanjang hari dan menilai sejauh mana kami setia pada panggilan-Nya.

Selain kegiatan rohani, kami juga berkesempatan untuk melihat karya pastoral para rahib OCSO, terutama dalam bidang peternakan sapi yang mereka kelola dengan tekun. Dari situ kami belajar bahwa kerja sederhana pun dapat menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan, bila dilakukan dengan cinta dan kesetiaan.

Romo Eko Saktio OMI bersama frater dan bruder OMI berfoto bersama salah satu Rahib OCSO di Rawaseneng

Rekoleksi ini memang berlangsung singkat, hanya sehari semalam, namun meninggalkan kesan mendalam dalam hati kami. Saat kembali ke komunitas, kami merasa mendapatkan semangat baru untuk melanjutkan rutinitas sehari-hari. Keheningan Rawaseneng mengajarkan kami bahwa di balik kesibukan dan tuntutan studi, selalu ada ruang di mana Tuhan menanti untuk menyapa dan memulihkan. Rekoleksi bukan sekadar jeda, tetapi sebuah perjalanan batin untuk kembali pada sumber kekuatan sejati: kasih dan kehadiran Tuhan yang senantiasa membimbing langkah hidup kami.

SEMUA BERITA
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram