BLOG

&

POST

The Meaning Of Christmass for Me

January 4, 2026

Fr. Benedictus Gerald OMI

Setelah 3 tahun menjalani masa formasi di Skolastikat OMI, akhirnya di tahun 2025 ini aku berkesempatan untuk merayakan natal bersama saudara-saudara sekomunitasku. Dua tahun terakhir ini aku merayakan natal tidak di komunitas. Tahun 2023, aku merayakannya bersama keluarga besarku di kampung halaman, Tana Toraja. Di Tahun 2024, aku merayakannya bersama umat di Paroki Sumber karena menjalankan asistensi bersama Rm. Rukmono. Dan akhirnya, Tuhan memberikanku kesempatan di tahun ini untuk merayakan natal di komunitas.

Seperti biasanya, natal adalah sebuah momen yang agung bagiku. Sebuah peristiwa sakral, luhur, dan mulia, di mana Allah yang dalam sejarah manusia adalah Allah yang transenden dan “tak kelihatan”, kini jelas hadir dan menjadi sama dengan manusia. Aku bersyukur bahwa di semester 5 ini, aku banyak belajar tentang Yesus Kristus, Trinitas, dan Keselamatan, baik dari perspektif Kitab Suci, para Bapa patristik dan skolastik, maupun dari tokoh-tokoh teolog. Hal ini membuatku semakin menyadari dan memahami akan apa yang menjadi rencana keselamatan Allah bagi manusia. Pewahyuan Allah yang terwujud dalam diri Yesus Kristus memang sepenuhnya tak bisa dipahami. Oleh karena itu, diperlukan iman yang mendalam untuk dapat memahami-Nya. Ini lah inti dari perjalanan untuk memahami dan menuju Allah.

Di dalam moment natal ini, aku belajar dan terus merefleksikan akan sejauh mana iman itu telah tumbuh dan berkembang dalam diriku. Iman terhadap Dia yang telah berinkarnasi, hadir ke dunia, dengan segala macam konteks peristiwa yang ada, simbol-simbol yang menyertai, kisah-kisah yang bahkan tidak aku alami secara nyata, bahkan terkadang disertai dengan adanya sentimen skeptis dalam diriku. Namun, di balik itu semua, iman yang kumiliki memungkinnya ada dan nyata, terlepas dari kemampuan akal budiku yang tidak akan pernah puas untuk memvalidasinya. Di satu sisi, iman diperlukan bukan pertama-tama untuk mengamini segala peristiwa hidup Yesus, namun untuk terlibat dalam seluruh peristiwa hidup-Nya. Ini lah yang membantuku untuk sampai pada arti dari Iman sebagai tanggapan atas Wahyu Allah.

Bersama kaum muda PPdM berbagi sukacita Natal ke rumah umat

Natal tahun ini membantuku untuk semakin mendalami iman itu dalam korelasinya dengan sesama. Aku sadar bahwa meskipun iman seringkali bersifat personal, namun perkembangan iman tidak lepas dari relasi terhadap setiap orang yang aku jumpai. Kehadiran orang-orang di sekitarku menjadi karya Roh Kudus yang menguatkan imanku. Hal ini terwujud dalam pengalaman natal tahun ini, di mana aku merayakannya bersama keluargaku, baik dengan keluarga tanteku, saudara-saudara sekomunitasku, kaum muda PPDM, dan umat yang aku temui. Momen perjumpaan ini sungguh menghangatkan. Mengalami cinta Tuhan yang tidak pernah berhenti bagi manusia dalam relasi dengan sesama.

Frater Gerald berfoto bersama Rm. Yuli OMI dan Rm. Peter OMI dan keluarga dari Makassar

Dengan demikian, peristiwa natal mengajarkanku untuk memandang setiap pribadi sebagai keluarga. Keluarga yang tidak hanya dipersempit dalam arti keluarga biologis, melainkan bagi setiap orang yang kujumpai. Lantas, ini mengajakku juga untuk semakin membuka mata terhadap anggota keluargaku di luar sana yang sedang mengalami penderitaan. Mereka yang mengalami natal dengan situasi yang tidak pernah mereka inginkan. Dalam realitas ini lah, tema natal semakin mendarat dengan nyata, yakni “Allah hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.” Maka, setiap pribadi, termasuk diriku sendiri, kiranya dapat memiliki kesadaran untuk turut terlibat dalam karya keselamatan Allah yang menyelamatkan. Pertanyaannya, berkenankah kita untuk melakukannya demi keselamatan semua orang, termasuk diri kita sendiri? Semoga.

SEMUA BERITA
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram