HOMILI RM. ANTONIUS WIDIATMOKO, OMI (MAGISTER NOVIS)
Perjalanan 40 tahun Novisiat OMI 'Beato Joseph Gerard' bukanlah waktu yang singkat. Novisiat OMI, yang dimulai tanggal 15 Juni 1985, ibarat rahim rohani bagi banyak pribadi yang berjalan di jalan salib Yesus dalam semangat dan spiritualitas OMI berlandaskan kharisma Santo Eugenius de Mazenod, Bapa Pendiri Kongregasi Para Misionaris Oblat Maria Imakulata (OMI). Tercatat setidaknya 250 lebih pemuda telah dididik di Novisiat ini. Kita bersyukur bukan karena kita hebat, tetapi karena Allah setia berjalan bersama kita.
"Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." (Mzm 136:1)
Selama empat dekade, Novisiat ini telah dipimpin oleh delapan Magister. Masing-masing telah memberi warna pada dinamika Novisiat. Mereka itu: 1) Rm. John O'Doherty, 2) Rm. Gregorius Basir Karimanto, 3) Rm. Ignatius Yulianto, 4) Rm. Antonius Andri Atmaka, 5) Rm. FX. Rudi Rahkito Jati, 6) Rm. Antonius Sussanto, 7) Rm. Bernardus Agus Rukmono, dan 8) Rm. Antonius Widiatmoko (sekarang ini). Setiap pribadi membawa warna, gaya, dan cara pembinaan yang mungkin berbeda, tetapi semuanya dibimbing oleh Roh Kudus yang satu dan sama - Roh yang menghidupkan, membentuk dan menyalakan api panggilan dalam diri para novis. Para Magister Novis itu ibarat Musa-Musa kecil yang menuntun para novisnya melintasi 'padang gurun' yang terus berubah kondisi dan tantangan zamannya, menuju kepada 'tanah terjanji' perjumpaan pribadi dengan Kristus Sang Penyelamat.
Para novis berasal dari zaman yang kondisinya berbeda dari waktu ke waktu. Generasi 1980-an akrab dengan keheningan dan sikap patuh tradisional, mereka tekun dan tahan banting, ibarat panser Jerman yang terus bergerak maju melibas tantangan dan kesulitan. Generasi 2000-an dikenal akrab dengan media digital. Mereka cepat bergerak, kritis dan haus akan makna, namun sekaligus mudah lelah dan gampang tergoda oleh tawaran nikmat dunia. Tantangan panggilan pun berubah. Tetapi esensinya tetap: menjadi saksi cinta Allah bagi yang paling miskin dan terlantar.
Di sinilah Novisiat ini menjadi penting: tempat para pemuda belajar bahwa mengikuti Kristus bukanlah soal tahu banyak, tetapi soal mau mencinta sampai habis; bahwa kesetiaan itu bukanlah emosi sesaat, tetapi sebuah keputusan harian yang perlu terus diperbarui untuk tinggal bersama Kristus dalam luka-luka dunia. Nilai-nilai keoblatan sama sekali bukanlah sekadar teori yang diajarkan di ruang kelas, melainkan api semangat yang dirasakan dan dialami melalui perjumpaan real konkret dengan orang-orang miskin yang menjadi subjek dinamika misioner kita. Ruang pembelajarannya dengan demikian bisa terjadi di manapun: di perempatan-perempatan jalan bersama para lopper koran/majalah, di jalan-jalan bersama para pemulung, di sawah bersama para petani, di emperan rumah bersama tunawisma, di Ndalem Welas Asih bersama orang-orang sakit, di media digital bersama mereka yang kehilangan makna dan harapan, dll.
"Dalam semangat OMI, kaum muda ini adalah ladang misi digital yang luas, dan menuntut pendekatan yang penuh kelembutan dan kehadiran yang otentik."
Saat ini kita tidak hanya merayakan 40 tahun yang sudah lewat, tetapi juga membuka lembaran baru untuk 40 tahun berikutnya. Dalam Kitab Suci, angka 40 itu sebuah angka pembentukan, angka formasi: 40 hari Musa di Gunung Sinai, 40 tahun bangsa Israel mengembara, 40 hari Tuhan Yesus berpuasa, 40 hari para Rasul mengalami perjumpaan secara baru dengan Tuhan Yesus yang bangkit hingga kenaikanNya ke sorga.
Kita pun percaya: inilah saat formasi, saat pemurnian diri untuk meninggalkan ego pribadi demi semakin mengenal kehendak Allah secara lebih baik dan mempercayakan diri kepada PenyelenggaranNya. Masih banyak hati kaum muda yang perlu disentuh. Begitu banyak umat yang menantikan hadirnya Oblat-oblat tangguh yang rela pergi ke tempat-tempat terpencil demi Injil: orang miskin dan terlantar, orang sakit dan kaum difabel, kaum muda dan para perantau, umat di pedalaman dan pelosok-pelosok lain dunia.
"Orang miskin ini membutuhkan kehadiran Gereja yang menyembuhkan - bukan hanya mengajar."
Kita diingatkan terus untuk menjadikan Novisiat bukan sekadar gedung tempat tinggal, tetapi rumah formasi hati: hati yang semakin terampil mendengar jeritan orang misin dalam pelbagai wajah kehadirannya, hati yang mencintai tanpa syarat, hati yang siap diutus, hati yang tangguh dan sabar, hati yang rendah hati dan belajar, hati yang percaya Tuhan hadir dalam keterbatasan, hati yang berdoa dan berserah. Dan untuk itu, kita mohon: "Bunda Maria Imakulata, ibu para Oblat, tuntunlah kami untuk setia seperti engkau. Santo Eugenius de Mazenod, doakan kami, agar kami tetap menjadi orang-orang yang siap membaktikan diri bagi kaum miskin dan terabaikan."