BLOG

&

POST

Kembali ke Sumber, Diperbarui untuk Misi

July 1, 2026

Rm. Antonius Widiatmoko, OMI

Mengikuti De Mazenod Experience (DMX) 2026 di Aix-en-Provence, Perancis, merupakan kesempatan istimewa bagi saya untuk kembali ke sumber karisma St. Eugenius de Mazenod. Selama dua bulan, saya tidak hanya mempelajari sejarah lahirnya Kongregasi, tetapi juga mengalami sebuah perjalanan rohani yang memperbarui semangat panggilan dan misi saya sebagai seorang Oblat.

Selama berada di Aix, kami diajak menelusuri tempat-tempat bersejarah yang berkaitan erat dengan kehidupan St. Eugenius de Mazenod dan lahirnya Kongregasi Misionaris OMI. Kami merenungkan tulisan-tulisannya, Konstitusi dan Aturan, serta perkembangan Kongregasi sejak berdirinya pada tahun 1816 hingga saat ini. Semua itu menolong saya melihat bahwa karisma Oblat bukanlah sekadar warisan sejarah, melainkan anugerah Roh Kudus yang tetap hidup dan terus memberi daya bagi perutusan Gereja. Karisma itu lahir dari pengalaman mendalam St. Eugenius akan kasih Kristus yang menggerakkannya untuk mewartakan Injil kepada mereka yang paling membutuhkan, sekaligus membangun komunitas para misionaris yang hidup sebagai saudara dalam satu semangat dan satu perutusan.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah retret Ignasian selama lima belas hari. Dalam suasana hening doa, saya mengalami kembali kasih Yesus yang menerima saya apa adanya. Saya menemukan bahwa sumber segala pelayanan bukanlah kemampuan, pengalaman, ataupun keberhasilan, melainkan pengalaman dicintai tanpa syarat oleh Kristus sendiri. Dari pengalaman itulah saya makin merasakan syukur atas panggilan sebagai imam dan Oblat. Saya merasa Tuhan mengajak saya bukan pertama-tama untuk melakukan lebih banyak karya, melainkan untuk semakin tinggal di dalam kasih-Nya. Dari sanalah semangat misioner memperoleh kekuatan yang baru.

Rm. Widi dan Peserta Oblat lainnya di depan Katedral Marseille
Rm. Widi di depan relikui St. Eugenius de Mazenod

DMX juga memperdalam pemahaman saya tentang makna hidup sebagai seorang Oblat. Saya semakin menghayati bahwa oblatio adalah penyerahan seluruh hidup kepada Kristus demi Gereja dan kaum miskin. Doa, hidup komunitas, persaudaraan, dan misi bukanlah unsur-unsur yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan yang membentuk identitas seorang OMI. Saya semakin memahami mengapa St. Eugenius begitu menekankan persatuan hati di dalam komunitas sebagai sumber kekuatan bagi karya misioner.

Selain memperdalam spiritualitas, DMX juga menjadi pengalaman interkultural yang sangat memperkaya karena diikuti oleh 14 orang Oblat dari berbagai negara. Hidup, berdoa, belajar, dan berbagi pengalaman bersama saudara-saudara dari aneka budaya memperlihatkan kepada saya bahwa karisma St. Eugenius sungguh hidup dalam berbagai konteks Gereja di seluruh dunia. Interkulturalitas itu semakin memperkuat rasa persaudaraan dan meneguhkan identitas kami sebagai satu keluarga religius yang dipersatukan oleh kasih kepada Kristus, Gereja, dan kaum miskin.

Kenangan lain yang tidak akan pernah saya lupakan adalah pengalaman salah menaiki kereta dalam perjalanan pulang dari Prancis. Harusnya dari Lyon ke Paris, saya malah dari Lyon ke Swiss. Secara logika, hampir mustahil saya dapat mengejar pesawat Singapore Airlines yang sudah ditetapkan jam berangkatnya dari Bandara Charles de Gaulle (CDG). Namun, di tengah situasi yang sangat menegangkan itu, hati saya tetap tenang. Saya percaya bahwa Tuhan tetap menyelenggarakan perjalanan ini. Kekuatan itu saya temukan dalam doa yang menjadi penutup retret saya:

Rm. Widi bersama Rm. Chico Rois Alonso (Superior General OMI)

"Yesus, Saudaraku, Engkau selalu berjalan bersamaku. Seluruh diriku dan segala yang kupunya adalah milik-Mu, dan kini kupersembahkan kembali kepada-Mu. Jagalah aku agar selalu tinggal dalam kasih-Mu. Engkau saja sudah cukup. Soli Deus Sufficit. Amin."

Pada akhirnya, sesuatu yang tampaknya mustahil menjadi mungkin. Dalam waktu sekitar 45 menit sebelum pesawat take-off, saya dapat berpindah dari Terminal 2 ke Terminal 1 Bandara CDG, menyelesaikan pemeriksaan imigrasi, pemeriksaan bagasi, dan tiba tepat pada waktunya untuk naik ke pesawat. Bagi saya, peristiwa ini menjadi semacam "ujian akhir" dari seluruh perjalanan DMX. Apa yang saya renungkan dan doakan selama dua bulan ternyata tidak berhenti di ruang retret, tetapi sungguh menjadi kekuatan untuk menghadapi situasi nyata kehidupan. Saya semakin diyakinkan bahwa ketika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, Dia senantiasa berjalan bersama kita. Benarlah doa sederhana yang lahir di akhir retret itu: "Engkau saja sudah cukup. Soli Deus Sufficit."

Saya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan mengikuti De Mazenod Experience 2026. Terima kasih kepada Kongregasi dan Administrasi Provinsi OMI Indonesia atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan kepada saya. Pengalaman ini sungguh memperbarui semangat panggilan saya sebagai imam dan Oblat, serta mendorong saya untuk lebih setia menghidupi karisma St Eugenius de Mazenod dalam pelayanan dan pewartaan Injil kepada Gereja dan kaum miskin.

Bersama Rm. Fabio Ciardi OMI
Salib yang dikenakan St, Eugenius de Mazenod
SEMUA BERITA
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram