BLOG

&

POST

Ziarah Langkah-Langkah Kecil Peradaban di Antara Alam dan Beton

July 19, 2025

Fr. Chris - Fr. Yere - Fr. Ajun - Fr. Rimlon

Senin, 7 Juli 2025

Di sore hari yang cerah kala mentari menyongsong gelapnya malam, enam roda sepeda berputar mengitari jalanan di sore hari. Perjalanan sore ini tidaklah memiliki tujuan yang pasti hendak kemana, namun ada keinginan untuk berenang dan kami pun memutuskan untuk survey tempat kolam renang terdekat. Dalam perhentian pertama kami singgah di kolam renang Aria 4 yang ternyata dekat namun letaknya jauh dari jalan raya sekitar 200 meter. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke tempat kolam renang yang kedua yaitu Tirta letaknya di jalan Kaliurang. Apesnya ketika hendak menanyakan harga tiket, sang penjaga kolam memukul lonceng tanda kolam renang sudah tutup. Kami pun akhirnya memutuskan untuk mencari kolam renang ketiga yang letaknya dekat stadion Maguwoharjo, alhasil kami tidak dapat menemukan kolam renang tersebut dan juga mentari telah menghilang dibalik langit dan kami pun memutuskan untuk mengakhiri perjalanan hari ini.

Selasa, 8 Juli 2025

Tujuan perjalanan kami hari ini adalah menuju kolam renang sembari melepas penat setelah bekerja keras selama setengah hari ini. Meski harga cukup mahal dengan harga Rp 15.000/orang, tak menghalangi kami menikmati keasrian alam persawahan dan kebun petani di sore hari. Kami juga saling belajar dan mengajari cara berenang bagi frater Yere yang usut punya usut tak pandai berenang. Tak terasa satu setengah jam telah berlalu, penat yang dirasa sirna seperti mentari yang perlahan tak lagi menerangi bumi. Kami pun mengakhiri kegembiraan sore ini dengan mengayuh sepeda dengan semangat yang baru.

Kamis, 10 Juli 2025

Sore ini kami memutuskan untuk menerapkan pola hidup sehat dengan menggerakkan tubuh yaitu jalan sehat di Embung Tambakboyo. Saat melakukan jalan sehat kami melawati pamela, masjid, juga melewati Gereja Condongcatur lalu akhir pergi ke Tambakboyo. Saat jalan sehat kami pun memutuskan untuk melakukan perjalanan ke yang lebih pelosok sembari melihat dan menikmati keasrian alam sekitar yang masih natural dengan pemandangan perumahan, persawahan dan kebun serta hutan kecil yang mulai di tebangi. Dalam perjalanan kami melihat dan menikmati semua ciptaan tuhan namun merasa sedih di kala melihat pembangunan yang perlahan menggusur keasrian alam.

Jumat, 11 Juli 2025

Hari ini kami melakukan jalan sehat dua mengelilingi kompleks perumahan jambusari, sembari melihat pemukiman perumahan yang jarang dikunjungi dan mengagumi bentuk rumah-rumah karya anak bangsa. Kami melihat di balik perumahan ada sebuah sungai. Kami mencoba mencari jalan untuk menyusuri sungai tersebut. Namun kami tidak menemukan jalan ke sana. Akhirnya kami menelusuri perumahan dan melewati masjid Nurul Jariah.

Usai keluar dari perumahan, kami juga melewati masjid Al-Hidayah dan melihat aktivitas warga di sekitarnya. Selanjutnya, kami melihat hamparan sawah dan perkebunan indah di sepanjang jalan tersebut. Sesampainya di sebuah persimpangan rumah makan pemadam kelaparan, kami menapaki jalan menuju Minomartani. Kami menyempatkan diri mengunjungi Gereja Minomartani. Kami menikmati perjalanan dengan penuh rasa syukur bisa bertemu banyak orang dan merasakan hiruk pikuk dunia yang sangat indah.

Langkah-Langkah yang diMaknai

Ziarah tidak selalu harus dilakukan ke tempat-tempat suci yang jauh. Dalam perjalanan hidup sehari-hari, ziarah dapat menjadi bentuk pengalaman iman yang menyatu dengan realitas konkret. Berangkat dari kegiatan sederhana mengayuh sepeda, mencari kolam renang, berenang di kolam renang, berjalan kaki menyusuri sawah dan perumahan kami mengalami perjumpaan eksistensial dengan dunia, sesama, ciptaan, dan Allah. Di sinilah teologi kontekstual dan filsafat dialektika menjadi kacamata reflektif untuk memahami bahwa Allah tidak hanya hadir di altar, melainkan juga di jalan, di hutan yang tertebang, di sungai yang tersembunyi, dan di antara tawa persaudaraan.

Pengalaman kami adalah gambaran nyata bahwa kehidupan modern saat ini berjalan dalam ketegangan antara kemajuan dan kehilangan. Kami menyusuri ruang-ruang yang dahulu alami dan kini mulai tersentuh beton. Kami menjumpai masjid, gereja, sawah, kolam, dan rumah makan segalanya menjadi bagian dari peradaban yang sedang dibangun. Namun kami juga menyadari bahwa kemajuan material tak selalu berarti kemajuan spiritual. Maka, kami berusaha menjadikan setiap langkah sebagai ziarah kecil yang penuh makna, sebuah spiritualitas berjalan di antara alam dan beton.

Perjalanan menelusuri jejak-jejak kehidupan dimulai pada senin, 7 Juli 2025 dan berakhir di hari sabtu, 12 Juli 2025. Pengalaman melihat, merasakan dan terlibat dalam roda zaman kehidupan begitu terasa. Kayuh sepeda dan langkah kami menjadi saksi peziarahan yang membawa harapan dalam kehidupan. Pengalaman minggu ini menjadi buah inspirasi bagaimana memaknai sebuah perjalanan hidup manusia mulai dari awal hingga akhir. Berbagai kisah menarik di hari-hari peziarahan ini menuntun kami untuk menelusuri jejak-jejak peradaban manusia dan juga makna kehidupan bagi dunia di zaman modern ini.

Permulaan pengalaman yang kami rasakan ialah menyaksikan dua kutub yang terus berdialog yakni alam yang asri dan beton yang menjalar, sebuah cerminan dialektika zaman. Hegel salah satu filsuf ternama menjelaskan bahwa realitas berkembang melalui kontradiksi tesis (yang ada), antitesis (yang menantang), dan sintesis (kesadaran baru yang mempertemukan keduanya) (Hegel, 1977). Pembangunan fisik adalah tesis modernitas, namun kehilangan keheningan alam menjadi antitesisnya. Di antara ketegangan ini, kami diajak merenung mungkinkah hadir sebuah sintesis spiritual dan ekologis di mana pembangunan dan pelestarian dapat berjalan bersama?

Peziarahan kami dimulai dengan melewati sawah-sawah, perkampungan, gereja, dan masjid. Di setiap ruang, kami menemukan keindahan sekaligus kecemasan. Ketika menyaksikan hutan kecil yang ditebang, kami merasa kehilangan, tetapi juga terpanggil untuk berdoa dalam diam memohon agar kemajuan manusia tak melukai bumi yang diciptakan Allah dengan kasih. Maka perjalanan ini tidak lagi sekadar jasmani, tetapi juga batiniah sebuah meditasi berjalan.

Teologi kontekstual menekankan bahwa Allah berbicara melalui konteks konkret umat manusia. Bukan hanya melalui Kitab Suci dan Magisterium, tetapi juga melalui sejarah, budaya, dan pengalaman sehari-hari (Bevan, 2002). Dalam perjalanan sore itu, kami belajar bahwa kolam renang yang tidak ditemukan, perumahan yang sunyi, dan sungai yang tak terjangkau bukanlah kegagalan, tetapi justru metafora kehidupan bahwa tak semua hal harus ditemukan, karena proses mencarinya sudah menyimpan makna.

Singgah di Candi Gebang, kami menyentuh jejak sejarah yang diam. Warisan leluhur itu menjadi tanda ziarah lintas generasi bahwa iman dan kebudayaan berjalan bersama. Dalam iman kristiani, budaya dan alam tidak terpisah dari karya keselamatan keduanya menjadi medan di mana Allah hadir dan bertindak (Gaudium Et Spes, 53). Dengan demikian, menyusuri kampung, bersepeda di antara sawah, dan beristirahat di Gereja lokal menjadi bagian dari spiritualitas kontekstual yang hidup.

Pada hari berikutnya, ziarah tidak selesai di tempat tujuan. Ia mengubah peziarah. Dalam Laudato Si, Paus Fransiskus mengajak kita melakukan pertobatan ekologis: perubahan hati dan gaya hidup demi keutuhan ciptaan. (Laudato Si, art 217-221). Maka ziarah kami, walau tampak sederhana, adalah latihan pertobatan yakni menyadari keterikatan kami pada kenyamanan, lalu belajar mencintai bumi yang kami injak. Setiap langkah yang kami tempuh, dari jalan Tambakboyo hingga Minomartani, menjadi latihan keheningan dalam gerak. Kami belajar berhenti, memperhatikan, dan bersyukur. Di saat tubuh lelah, hati kami justru terbuka. Di saat kehilangan arah, kami justru mendengar suara-Nya. Ziarah ini pun mengutus kami untuk tidak acuh pada dunia, tetapi merawatnya dengan kasih. Seperti para murid di Emaus, kami berjalan bersama, berbicara, lalu mengenali-Nya dalam peristiwa kecil. Di antara beton dan alam, kami dipanggil menjadi peziarah dan penjaga taman Tuhan.

Rekreasi dan Ziarah selama Ambulasi

Ziarah ini bukan tentang spektakularitas, tetapi tentang kesetiaan dalam langkah kecil. Bahwa peradaban sejati dibangun bukan hanya oleh para pemimpin besar, tetapi juga oleh mereka yang berjalan perlahan, memperhatikan, dan mencintai. Ziarah kami adalah berjalan bersama Allah di tengah dunia yang kompleks. Di antara alam dan beton, kami belajar bahwa iman Kristiani tidak menghindar dari dunia, melainkan terlibat di dalamnya. Ketika kami berjalan bersama, menatap langit senja dan lampu kota, kami tahu Tuhan ada di sana, di jalanan, di sawah, di hutan kecil, dan di hati yang bersyukur.

SEMUA BERITA
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram