Taman doa ini dikelola oleh para Misionaris Oblat Maria Imakulata (OMI), sebuah kongregasi religius misionaris yang menghidupi semangat “oblatio” — persembahan diri sepenuhnya kepada Allah. Kata “Oblat” berarti “persembahan,” dan Bunda Maria Imakulata menjadi teladan utama dalam mempersembahkan seluruh hidupnya kepada rencana keselamatan Allah.
"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu." (Lukas 1:38)
Tulisan yang menyambut Anda di gerbang utama berbunyi:"Kupersembahkan dosa-dosaku dan kusambut kasih pengampunan-Mu, Tuhan"
Renungan: Langkah awal ziarah ini adalah tindakan hati yang paling penting: penyerahan diri. Taman doa ini bukan sekadar tempat fisik, melainkan ruang batin untuk bertemu Allah yang penuh kasih. Dengan menyerahkan dosa-dosa, kita mengakui kerapuhan dan kebutuhan akan belas kasih Tuhan. Dan dalam iman, kita menyambut pelukan pengampunan-Nya yang membebaskan dan memperbarui.
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9)
"Allah yang Mahakasih, Engkau memanggilku untuk datang ke tempat kudus ini. Bersama Bunda Maria Imakulata dan dalam terang Salib Putra-Mu, aku ingin membuka hatiku, menyerahkan luka dan harapanku. Kupersembahkan dosa-dosaku dan kusambut kasih pengampunan-Mu, Tuhan. Sucikan pikiranku, tenangkan jiwaku, sembuhkan tubuhku, dan bimbinglah langkahku hari ini agar ziarahku menjadi berkat. Amin."
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."(Matius 11:28)
Renungan singkat tiap perhentian diambil dari semangat hidup St. Eugenius de Mazenod, Bapa Pendiri Kongregasi OMI.
Patung Maria Oblat menggambarkan Bunda Maria Imakulata yang berdiri dengan tangan terbuka, menyambut setiap peziarah yang datang. Dalam wajahnya terpancar kelembutan, kesetiaan, dan kekuatan seorang ibu.
Renungan: Bunda Maria, engkau dipilih Allah untuk menjadi ibu Sang Penebus. Engkau menerima tugas itu dengan hati yang penuh iman. Ajarlah aku untuk menyerahkan diriku seutuhnya kepada kehendak Allah, sebagaimana Engkau mempersembahkan seluruh hidupmu. Semoga aku pun menjadi "oblat" — persembahan yang hidup dan kudus bagi Allah.
"Aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu." (Lukas 1:38)
Salib Cordoba adalah salib Yesus yang berbeda. Salah satu tangan-Nya terulur turun dari kayu salib, menyimbolkan pengampunan dan penerimaan yang aktif dari Tuhan.
Tulisan “Telah Kuampuni Dosamu, Teruskanlah Kasih-Ku” (Yesus Gembala yang Terluka) mengungkapkan inti dari Injil: belas kasih Allah yang tak bersyarat dan panggilan untuk menjadi saluran kasih-Nya. Kalimat ini lahir dari hati Yesus yang penuh luka, yang memilih mengampuni daripada membalas dendam. Ia telah menanggung dosa-dosa kita di kayu salib, bukan agar kita berhenti di rasa bersalah, tetapi agar hidup kita diubah oleh kasih yang menyelamatkan.
Pengampunan-Nya adalah anugerah, bukan hadiah karena jasa, dan justru karena itu, menuntut jawaban hati yang penuh syukur. Melalui pengampunan itu, Yesus mengangkat kita dari kehancuran dan mengundang kita menjadi perpanjangan tangan-Nya di dunia. Mengampuni sesama dan mengasihi mereka adalah cara kita ikut serta dalam misi penyelamatan Kristus.
Salib itu bukan hanya tanda penderitaan, tetapi lambang kemenangan kasih atas dosa dan kebencian. Maka, berdiri di depan salib dengan tulisan ini adalah undangan untuk merenungkan: apakah aku telah menerima kasih itu dengan hati terbuka, dan mau meneruskannya dalam hidup sehari-hari? Di taman doa itu, setiap peziarah diundang bukan hanya untuk merasa dikasihi, tapi untuk menjadi kasih.
Renungan: Tuhan yang Tersalib, Engkau tidak hanya wafat untuk menebus dosaku, tetapi juga mengulurkan tangan untuk mengangkatku kembali. Dalam salib ini, aku merasakan kekuatan kasih yang tidak hanya mengampuni, tetapi juga mengutus. Biarlah pengampunan yang kuterima ini tidak berhenti padaku, melainkan mengalir ke sesamaku.
"Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami." (Matius 6:12)
Kapel menjadi pusat keheningan dan perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Di sinilah kita dapat merenung, berdoa dalam diam mencurahkan isi hati di hadapan Sakramen Mahakudus.
"Tuhan Yesus yang Mahakasih, Terima kasih atas kasih-Mu yang menyertaiku dalam ziarah ini. Terima kasih atas pengampunan-Mu, atas teladan Bunda Maria Imakulata, atas setiap salib dan bangkit yang Engkau tunjukkan kepadaku. Kini aku kembali ke dunia dengan hati yang diperbarui, siap menjadi pembawa kasih dan damai-Mu. Amin."
"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu." (Yohanes 14:27)