Oleh: Fr. Benedictus Gerald OMI
Semenjak menjalani panggilan sebagai OMI, mulai dari masuk Seminari Menengah Yuniorat OMI di Cilacap tahun 2018, sampai saat ini sebagai seorang frater tingkat 3, salah satu bagian paling indah yang aku alami dan rasakan adalah kekeluargaan. Yaps, aku menyadari bahwa unsur kekeluargaan merupakan salah aspek hidup yang ditekankan dalam spiritualitas seorang oblat.
Seringkali salah satu alasan terbesar seseorang tidak ingin menjalani panggilan sebagai romo, bruder, ataupun suster adalah karena jauh dari keluarga. Namun, pengalamanku menjalani panggilan sebagai calon Imam selama 8 tahun ini, membuat relasi ku dengan keluarga tidak semakin menjauh, melainkan semakin erat. Justru aku juga diberi banyak keluarga oleh Tuhan melalui orang-orang yang aku jumpai, baik itu di dalam komunitasku sendiri, maupun terhadap umat yang mendukungku dalam menjalani panggilan. Aku teringat sebuah brosur promosi OMI yang dulu aku temui di laci seminari, di mana ada tertulis “menjadi OMI tidak menjauhkan kita dari keluarga, namun justru semakin mendekatkan kita dengan keluarga.”

Pengalaman kunjungan dari keluargaku ke Seminari Tinggi OMI, membuatku menyadari bahwa kini keluargaku “tidak semata-mata milikku saja”, melainkan juga menjadi keluarga bagi setiap oblat. Demikian pun aku dengan keluarga rekan-rekan oblat yang lain. Alhasil, apa yang dikatakan dalam brosur tersebut adalah benar. Tuhan memberikanku keluarga yang selalu mendoakan, mendukung, dan menguatkanku dalam menjalani panggilan-Nya, baik itu keluarga intiku, komunitasku, ataupun orang-orang yang aku jumpai.
Aku bersyukur bahwa moment-moment seperti ini yang Tuhan berikan kepadaku secara cuma-cuma, menjadi salah satu pengalaman yang menguatkan. Dan aku yakin, bahwa bukan hanya aku yang merasakannya, melainkan juga saudara-saudara sekomunitasku. Thanks God.