Oleh: Diakon Suni Bonifikus Bunghari OMI
Allah memberi memberi kebebasan untuk memilih jalan hidup dan pilihan yang telah dibuat perlu dipertanggungjawabkan serta dijalani dengan penuh syukur, doa dan perjuangan. Itulah yang aku refleksikan sebelum memutuskan untuk mengajukan surat tahbisan diakon. Aku melihat dan menemukan kasih Allah yang luar biasa. Kasih Allah yang senantiasa menolong ketika dihadapkan dengan situasi sulit, perjuangan dan tantangan. Allah selalu punya cara-Nya untuk menolong denganmengirim orang-orang baik dan membantu menghadapi berbagai pergulatan hidup dan perjuangan.
Pada 29 Mei 2026 aku menerima tahbisan diakon dari Yang Mulia Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Keuskupan Semarang. Aku merasa hari itu begituIstimewa karena bertepatan dengan perayaan Beato Joseph Gérard, OMI , OMI. Beato Joseph Gérard, OMI, OMI merupakan seorang misionaris OMI yang menghabiskan hidupnya untuk melayani umat Allah di Lesotho, Afrika. Aku merasa peristiwa ini merupakan doa dan harapan agar bisa meneladani Beato Joseph Gérard, OMI terutama selama masa diakonat di Paroki Santo Petrus dan Andreas Sepauk Kalimantan Barat.
Aku merefleksikan tahbisan diakon merupakan salah satu momen penting dalam kehidupan Gereja Katolik. Tahbisan diakon merupakan anugerah sekaligus tanggung jawab yang besar. Melalui sakramen ini, seorang diakon dipersatukan secara khusus dengan Kristus Sang Pelayan dan diutus untuk melayani Gereja melalui sabda, liturgi, dan karya kasih. Pelayanan diakon mengingatkan seluruh umat beriman bahwa inti kehidupan Kristiani adalah kasih yang diwujudkan dalam pelayanan yang rendah hati.
Melalui sakramen Tahbisan, seorang calon diakon menerima rahmat khusus untuk mengambil bagian dalam pelayanan Kristus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Mrk. 10:45). Tahbisan diakon bukan sekadar pengangkatan pada suatu jabatan gerejawi, tetapi sebuah panggilan untuk menghidupi spiritualitas pelayanan yang berakar pada kasih, kerendahan hati, dan pengorbanan diri. Pelayanan diakon memiliki akar yang kuat dalam Kitab Suci. Kisah Para Rasul 6:1-6, para rasul memilih tujuh orang yang penuh Roh Kudus dan hikmat untuk membantu pelayanan kepada umat. Peristiwa ini dipandang sebagai dasar historis perkembangan diakonat dalam Gereja. Para diakon dipilih agar pelayanan
Gereja dapat berlangsung secara lebih efektif, terutama dalam memperhatikan kebutuhan kaum miskin dan mereka yang terpinggirkan.Melalui tahbisan, seorang diakon memperoleh rahmat sakramental yang memampukannya menjalankan tiga bidang pelayanan utama, yaitu pelayanan sabda, pelayanan liturgi, dan pelayanan kasih. Dalam pelayanan sabda, daikon mewartakan Injil dan mengajar umat. Dalam pelayanan liturgi, ia membantu uskup dan imam dalam perayaan-perayaan suci, termasuk membaptis, memberkati perkawinan, dan memimpin ibadat tertentu. Dalam pelayanan kasih, diakon dipanggil untuk hadir secara nyata di tengah orang miskin, sakit, dan mereka yang membutuhkan perhatian Gereja.
Paus Fransiskus sering menekankan bahwa Gereja harus menjadi Gereja yang keluar, yang mendekati mereka yang berada di pinggiran kehidupan sosial dan spiritual. Semangat ini sejalan dengan identitas diakon sebagai pelayan kasih. Diakon dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Gereja yang peduli, mendengarkan, dan menemani umat dalam berbagai pergumulan hidup. Aku sadar bahwa perjalanan ini tidak selalu mudah. Akan ada masa-masa penuh sukacita, tetapi juga masa-masa penuh pergulatan. Akan ada saat-saat ketika pelayanan menghasilkan buah yang melimpah, tetapi juga saat-saat ketika yang terlihat hanyalah kelelahan dan pengorbanan. Oleh karena itu Doa, penyerahan diri pada Allah secara Total dan dan dukungan dari semua orang menjadi kekuatan ketika berhadapan dengan situasi sulit dan menantang.