Oleh: Fr. Tino OMI
Proses menjalani dan menghidupi panggilan, menjadi saat dimana diri terus mengalami kasih Allah. Hal tersebut menjadi penghayatan saya selama berada di masa formasi. Perjalanan hari ini menghantar saya dan kedua saudara, yakni Fr. Victor Tri Putera dan Fr. Birinus Mahendra Malangan, sehingga mantap mengikrarkan Kaul Pertama kami. Minggu, 10 Agustus 2025, menjadi hari yang penuh syukur, sebab kami boleh mengikrarkan kaul kebiaraan untuk pertama kalinya dalam Kongregasi OMI.
Tema Kaul yang kami pilih adalah “jika aku lemah, maka aku kuat”. Tema ini hadir berdasarkan refleksi dari masing-masing pribadi, yang menyadari adanya kelemahan-kelemahan manusiawi, namun juga percaya bahwa dalam nama Yesus segalanya akan disempurnakan.
Secara pribadi saya bersyukur atas pengalaman kaul pertama ini, sebab pengalaman tersebut menjadi tanda keagungan Allah dalam diri kami. Pengikraran kaul adalah undangan dari Allah sendiri untuk siap menjalani kehidupan yang semakin ditujukan pada-Nya. Undangan yang hendak menegaskan kepada diri saya, bahwa pengikraran kaul menjadi sarana untuk selalu mengandalkan Kristus ditengah keterbatasan manusiawi saya.
Menghidupi kaul kemurnian berarti ajakan untuk membangun relasi personal dengan-Nya. Sementara Kaul ketaatan menjadi undangan untuk setia mendengar dan menjalankan kehendak Allah yang hadir melalui pimpinan. Dan begitu pula dengan kemiskinan yang menjadi dorongan untuk selalu sadar bahwa semuanya hanya terpenuhi dalam Kristus. Ketiga kaul tersebut mesti sungguh saya hidupi dengan mantap. Bukan pertama-tama demi diri saya sendiri, melainkan demi keselamatan jiwa-jiwa.
Perasaan damai juga menyelemuti saya setelah Perayaan Kaul Pertama selesai. Perasaan itu muncul karena saya yakin dan percaya akan penyelengaraan Ilahi selama menghidupi kaul-kaul yang baru saja diikrarkan. Seperti pesan pembimbing retret Kaul yaitu Rm. Widi OMI, yang mengatakan bahwa “yang terpenting dalam menghidupi kaul adalah relasi personal dengan Yesus, agar segalanya terpenuhi dalam-Nya”.
Pengalaman kasih Allah yang mencintai meski lemah, menjadi dasar yang akan terus saya hidupi dalam perjalan panggilan sebagai OMI. Hanya dalam kasih-Nya, saya percaya segala sesuatu yang akan dijalani pasti berjalan dengan baik. Saya berharap semoga pengalaman Kaul Pertama ini, semakin menguatkan kesadaran akan panggilan dan segala prosesnya agar sungguh menjadi berkat bagi diri sendiri maupun bagi sesama, terkhusus bagi mereka yang kecil dan lemah.
LJC et MI