Fr. Nicolaus Kumara Rawikara, OMI
Pada tanggal 4-8 Agustus 2025 lalu, para Frater dan Bruder OMI menjalani masa retret untuk mempersiapkan diri sebelum memperbaharui kaulnya. Retret ini dilaksanakan di Rumah Retret Maria Imakulata, Kaliori, Banyumas, Jawa Tengah. Tema yang diusung ialah “Menjadi Oblat yang Berkarakter” dan dibimbing oleh Romo Nardi, SCJ.

Fr. Togar dan Rm Nardi., SCJ
Di hari pertama retret, Romo Nardi membantu kami untuk mengenali diri sendiri dengan melakukan tes profil inventori nilai dan karakter psiko-religius. Melalui tes ini, masing-masing dari kami dapat mengenali apa saja karakter positif, negatif, serta hal yang perlu diwaspadai oleh setiap pribadi dalam menjalani hidup religius. Keesokan harinya, dijelaskan oleh Romo Nardi tentang karakter Petrus yang terdapat dalam Injil Yohanes 21:15-19. Garis besar perikop tersebut mengisahkan dialog antara Yesus yang bertanya kepada Petrus; “Apakah engkau mencintai-Ku?” dan jawaban Petrus rupanya berlawanan dengan kehendak Yesus. Petrus menjawab pertanyaan Yesus menggunakan aspek cinta filia (cinta persahabatan, ada timbal balik) sebanyak dua kali, sedangkan maksud cinta yang dikehendaki oleh Yesus adalah cinta yang agape (cinta yang tulus dan tanpa syarat). Hingga akhirnya dalam pertanyaan yang ketiga, Yesus mau merendahkan diri-Nya kepada Petrus, tetap memberinya kesempatan untuk mencintai-Nya meskipun masih dalam taraf filia.

Misa penutupan Ret-ret pembaruan kaul
Yesus tetap mengizinkan Petrus memberikan cinta dengan caranya sendiri. Kisah tersebut memiliki makna bahwa sifat kemanusiawian Petrus adalah sesuatu hal yang normal dan wajar karena sebagai manusia biasa pasti tetap memiliki kekurangan dan kerapuhan. Tetapi, Yesus tetap mengasihi Petrus sebagai murid yang dikasihi-Nya dan memberi kesempatan kepada Petrus untuk berproses mengolah diri sehingga dapat mencintai Yesus sampai pada level cinta yang tertinggi, yakni cinta agape. Tidak hanya menjelaskan tentang karakter Petrus, akan tetapi Romo Nardi juga meneguhkan kami bahwa Yesus telah sedemikian rupa mengasihi manusia tanpa syarat, bahkan Ia mau membayar mahal penebusan dosa manusia sampai penderitaan dan wafat-Nya di salib.

Fr. Ara dan angkatan (Tingkat 3)
Melalui retret yang telah saya jalani, saya semakin dimantapkan untuk terus maju dalam menapaki jalan panggilan khusus yang telah diberikan Tuhan kepada saya. Terus mengumpulkan pengalaman-pengalaman dikasihi oleh Tuhan seperti juga kisah Natanael saat berada di bawah pohon ara. Ia tidak sadar bahwa Yesus telah lebih dahulu melihat, mencintai, menuntun, menaungi, serta memilih dirinya sebagai pribadi yang spesial. Suasana berada di bawah pohon ara yang penuh keheningan, membuat pribadi Natanael akhirnya sadar bahwa ia spesial dan dicintai sepenuhnya oleh Yesus. Maka betapa sangat penting menjaga disposisi batin, supaya dapat selalu siap mendengarkan suara Yesus melalui hati. Sikap disposisi batin yang baik membuat saya semakin mantap bahwa panggilan ini merupakan suatu anugerah. Saya telah dipilih serta diminati oleh Allah sendiri, kendati masih banyak kekurangan dan kerapuhan.
Terpujilah Yesus Kristus dan Maria Imakulata!