Fr. Berk - Fr. Andhika -- Fr. Adit
Sering kali ada anggapan bahwa kehidupan religius terutama bagi kami para frater yang sedang dibentuk di seminari adalah hidup yang tertutup, sunyi, bahkan terputus dari hiruk-pikuk dunia luar. Dalam batas pagar seminari yang tertata rapi, di tengah ritme harian yang teratur dengan doa, studi, dan hidup komunitas, kami bisa saja terbuai dalam kenyamanan formasi dan lupa akan dunia yang justru menjadi ladang misi kami kelak.
Namun pengalaman singkat selama seminggu di luar seminari, dalam karya observasi sosial bersama kelompok kecil, mengubah cara pandang itu. Kami tidak hanya sekedar “keluar dari pagar”, tetapi benar-benar diajak untuk melihat dan menyentuh realitas dunia, dengan segala kompleksitas dan dinamismenya. Melalui perjumpaan dengan masyarakat, pengamatan akan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, bahkan isu-isu kemanusiaan, kami dibawa untuk membuka mata, membuka telinga, dan terlebih lagi membuka hati. Kami menyadari bahwa dunia bukanlah “yang lain” dari kehidupan religius. Dunia bukan tempat yang harus dijauhi, melainkan dunia adalah tempat kami diutus.
Di sinilah ilmu-ilmu teologi yang kami pelajari di bangku kuliah menemukan konteks dan relevansinya. Teologi bukan hanya wacana intelektual yang tinggi dan ideal, tetapi menjadi alat baca realitas, menjadi cara pandang untuk melihat bahwa Tuhan hadir di tengah dunia yang luka, penuh pertanyaan, dan merindukan harapan.
Kami belajar bahwa menjadi frater tidak berarti hidup dalam “tembok biara”, tetapi menjadi pribadi yang mampu berdiri di tengah dunia tidak terseret arus, namun juga tidak menjauh darinya. Kami diajak untuk menjadi jembatan antara Sabda dan dunia, antara altar dan jalanan. Dalam hidup religius, justru kami diajar untuk semakin peka pada suara umat manusia, karena di sanalah suara Allah seringkali terdengar paling jujur dan mendesak.
Dalam kesempatan selama seminggu ini, kami berjalan bersama kelompok untuk melihat realitas “diluar” bukan hanya sebatas mengamati tapi juga melatih berbagai aspek dalam diri pribadi, kepekaan, dan empati. Sehingga kami mampu dan dapat berbela rasa dengan mereka. Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa hidup religius bukanlah hidup yang menjauh dari dunia, tetapi hidup yang berjalan bersama dunia mendengar tangisnya, menyentuh lukanya, dan memberi harapan melalui kehadiran yang sederhana namun penuh
makna. Inilah panggilan misi kami: menjadi tanda harapan di tengah dunia, bukan dengan menjauhinya, melainkan dengan mencintainya dalam terang Injil.
Ketika ritme kehidupan seminari yang sunyi dan teratur bertemu dengan dinamika masyarakat di luar pagar, kami menemukan bahwa teologi bukan hanya sekedar ilmu, melainkan lensa untuk melihat realitas hidup. Melalui langkah-langkah kami di Stadion Mandala Krida dan Tambakboyo, pengalaman ini menegaskan bahwa panggilan religius bukan bersembunyi dari dunia melainkan meresapi dan menguduskan setiap sudutnya. Bahwa di tengah kerumunan pedagang dan pelari sore, Tuhan berbicara lewat senyum, doa sederhana dan kehadiran yang membumi. Setiap sore (Senin dan Jumat), sekitar pukul 16.00-18.30 WIB, kami bertiga (Fr. Adit, Fr. Andika, dan Fr Berk) berjalan menyusuri Stadion Mandala Krida yang tengah meriah oleh Mandala Expo. Para pedagang membuka lapak, menawarkan minuman dingin, camilan ringan, dan kebutuhan sederhana bagi ribuan pengunjung. Suasana riuh itu tampak sekadar aktivitas ekonomi, namun lebih dari itu, kami melihat panggilan hidup yang suci, panggilan untuk melayani sesama melalui upaya sederhana namun berarti.
Lain waktu, Selasa hingga kamis, kami mendatangi Tambakboyo pada jam yang sama. Di sana, lapak-lapak kopi keliling dikelola pemuda-pemuda kreatif yang memanfaatkan ruang publik sore hari. Mereka membangun komunitas kecil atau yang kami sebut dengan istilah “oasis kopi” di tengah kerumunan pelari sore, yang berharap tubuh mereka sehat dan relasi makin erat. Terlepas dari semuanya itu kami melihat bahwa di sinilah iman muncul dalam segelas kopi hangat dan tawa ringan antara pedagang dan pembelinya.
Terang pengajaran St. Josemaria Escrivá dalam Spiritualitas Opus Dei menunjukan bahwa setiap pekerjaan, sekecil apapun, dapat menjadi jalan menuju kekudusan: “Work is converted into a means of daily sanctification”. Iman muncul dalam suasana di sekeliling gerobak kopi dan dalam sepucuk harapan sederhana, “Mugi berkah ya, Mas.” Setiap gerobak, setiap gelas kopi menjadi ruang perjumpaan kecil dengan yang ilahi.
“Work is converted into a means of daily sanctification”.
St. Jose Maria Escriva
Ada dua pengalaman menarik yang kami dapatkan dan hemat kami, pengalaman ini memiliki benang merahnya. Pertama, ketika melihat sebuah lapak bakso tusuk di Stadion laku (banyak pembeli yang berkunjung), kami melihat kerutan sukacita di sudut mata pedagang. Kerutan sukacita itu seakan menggambarkan sebuah doa tanpa kata: “Tuhan, Engkau berkati usaha ini.” Ekspresi itu lebih dari tanda keberhasilan; ia doa hidup sehari-hari. Secara Teologi, jelas bahwa dalam Laborem Exercens, Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa pekerjaan tidak hanya menghidupi manusia, tetapi juga menegaskan martabat mereka; through work man… becomes more a human being.” Begitu pula, doa lirih seorang pemuda penjual kopi di Tambakboyo: “Mugi berkah ya, Mas.” Tanpa formalitas, kata itu menghidupkan dimensi spiritual pekerjaannya, yang menegaskan bahwa kopinya adalah karya, relasi, dan doa. PanggilanNya hadir di tengah interaksi manusiawi sederhana, bukan hanya di altar gereja.


Kesempatan yang berharga ini kami manfaatkan untuk berdialog, duduk bersama, dan berbagi cerita, Baik diantara kami, bersama pedagang, atau orang-orang yang kami jumpai. Malam harinya, kami mengambil waktu tuk merenungkan secara pribadi, di momen mana kami merasakan sentuhan kasih dan panggilan dari Tuhan? dan dengan semua pengalaman yang selalu kami bawa dalam doa dan refleksi, kami melihat bahwa panggilan untuk beragama bukan hanya praktik sakral di tempat suci, tetapi juga di atas trotoar ramai, di tengah warung kopi, di mana tubuh dan iman berjumpa.
Refleksi kami ini hendak mengajak kita semua bahwa iman adalah realitas hidup; ia meresap dalam setiap gerakan, secangkir kopi penutup nafas pelari, dan simpul hangat simpanan harapan. Tuhan hadir dalam kesederhanaan ruang publik. Wajah pedagang, kreativitas pemuda, dan interaksi sederhana menjadi altar doa. Sebagai Frater dan sahabat, tugas kami hanya belajar melihat dan mengalami iman yang hidup dalam setiap gerak tawa, peluh kecil, dan pelayananNya kepada dunia.
Kita hidup di era disrupsi di mana teknologi mengambil peran besar dalam kehidupan manusia. Situasi menjadi serba cepat dan mengalir begitu saja sesuai dengan pemikiran dan inovasi manusia. Situasi banjir informasi, kemudahan akses informasi dengan AI hingga pendangkalan kreativitas dan intelektual mewarnai kehidupan manusia yang zaman sekarang kerap disapa “Gen-Z”. Perkembangan teknologi tak bisa dipungkiri. Misalnya saja aplikasi, Tiktok yang dulu berisikan konten ekspresif berubah menjadi sumber informasi yang bisa jadi terpercaya. Di satu sisi hal ini membantu manusia untuk bisa menemukan kemudahan dalam hidup, tetapi justru bisa menjadi bumerang yang kalau tidak dimanfaatkan dengan bijak membawa manusia pada ketergantungan entah itu nomophobia, digital addiction, dan masih banyak lagi.
Kekhawatiran muncul setelah berbagai jurnal dan literatur mengungkapkan ketergantungan ini menyebabkan manusia kehilangan kemampuan dasar seperti berpikir kritis, memecahkan masalah, dan kreativitas. Dalam pengalaman saya, banyak juga saya
jumpai generasi mageran yang kerjanya hanya makan, tidur, main game, bahkan mengerjakan tugas dengan AI sebagai sumber utama ketimbang rasionya. Algoritma media sosial turut melegitimasi hal ini. Budaya scrolling tiktok, instagram, dan youtube tanpa kenal waktu menyebabkan orang lebih menyukai hal hal praktis ketimbang pekerjaan yang lebih sulit.
Kendati begitu, ada sebuah harapan baru yang menggeser paradigma ini. Sejauh kami amati, di media sosial banyak sekali konten motivatif yang menggerakkan orang untuk hidup lebih baik, misalnya workout, cardio, menu sehat untuk diet, dan sebagainya. Hal ini didukung dengan konten menarik yang menunjukkan sejauh mana pengguna jogging, berapa kecepatannya, yang disertai dengan lagu khas. Orang orang mulai FOMO dengan hidup sehat yang sebenarnya seharusnya sudah lama harus disadari oleh manusia. Kami senang dengan sikap Feared of Missing Out yang menyehatkan ini. Orang tak lagi digandrungi untuk ikut pada sikap hidup mewah yang sempat menjadi problem besar di media sosial, tetapi menjaga kesehatan tubuh sebagai bentuk tanggung jawab kepada Allah entah disadari atau tidak.


Situasi ini kami jumpai dalam kesempatan ambulasi Setiap tempat mempertemukan kami dengan orang-orang jogging, berjalan kecil, workout dan sebagainya. Kami senang dengan algoritma media sosial yang membawa orang pada hal positif. Kalau bisa direfleksikan lebih mendalam, kemajuan teknologi dan sistem informasi adalah sebuah peluang untuk sampai pada kebaikan yang adalah Allah sendiri. Orang berpikir bahwa kemajuan membawa kemunduran dalam hidup religius. Bagi kami tidak demikian. Melihat antusiasme hidup sehat saat ini, saya percaya bahwa orang turut melangkah dalam terang iman yang kontemporer. Hal ini bukti kalau manusia menguasai teknologi, dan bukan sebaliknya.
Lewat pengalaman ini kami menyadari manusia dengan bijak turut ambil bagian dalam penciptaan Allah. Penciptaan ini bukan muluk-muluk mencipta, tetapi dengan menjaga hidupnya seturut sabda Allah bahwa “semua harus baik adanya”. Dengan kemajuan teknologi itu, manusia sampai pada kesadaran penuh sebagai pelaku penciptaan itu, yang diberikan kebebasan bertanggung jawab demi kebaikan bersama (common good) bagi sesama dan lingkungan, tetapi juga dirinya sendiri.
Pengalaman selama seminggu ini sebenarnya adalah sebuah usaha pastoral. Berkaca dari tindakan Yesus yang melihat, tergerak, dan berbuat kami diajak untuk semakin menyadari realita kehidupan yang kompleks dan tidak mudah. Refleksi ini merupakan sebuah permenungan akan identitas diri, perjumpaan dengan banyak orang dalam konteks kehidupan yang semakin maju. Pengalaman ini adalah kesempatan untuk belajar memposisikan diri di tengah umat sesuai identitas yang dimiliki serta berjalan bersama orang lain dalam konteks yang direfleksikan.