BLOG

&

POST

Mengasuh dengan Cinta Kasih: Pengabdian Sosial di Panti Asuhan Santa Maria, Boro

July 29, 2025

Fr. Demacha Fibonanda OMI

Selama 21 hari, terhitung sejak tanggal 5 Juli hingga 21 Juli, kami para frater tingkat II (Fr. Dedi, Fr. Ara, Fr. Fibo, dan Fr. Gerald) belajar untuk mendalami dan merasakan salinan kasih yang ada di Panti Asuhan Santa Maria, Boro. Terletak di Desa BanjarasriKalibawangKabupaten Kulon ProgoYogyakarta,  panti tersebut dikelola dengan begitu luar biasa oleh para Bruder FIC, yang kini dipimpin oleh Br. Boni, FIC. Menurut data yang saya ketahui, jumlah anak-anak di Panti saat ini berkisar 32 anak, dengan berbagai jenjang tingkatan pendidikan (SD, SMP, dan SMK). Ada pun 8 karyawan yang turut membantu Br. Boni dalam menjaga keberlangsungan hidup anak-anak di Panti tersebut.  

            Secara pribadi saya bersyukur dapat menjalani live in di Panti Asuhan Santa Maria, Boro. Hidup dan tinggal bersama mereka, membuat saya terdorong untuk turut serta mengambil bagian bagi mereka yang membutuhkan sapaan kasih. Mata hati saya dibuka, dengan melihat realitas anak-anak yang dengan segala keterbatasannya, mesti tetap memerlukan hak mereka memperoleh sandang-pangan, kesehatan, hingga pendidikan. Karya Panti Asuhan para Bruder-bruder FIC, membuka pintu masa depan yang cerah bagi anak-anak ini, hingga akhirnya dapat berdampak positif di masyarakat.

Anak-anak saat sedang latihan pentas seni untuk HUT panti ke-87
Kegiatan belajar di malam hari

Sejarah Singkat Panti Asuhan

Pada tahun 1936, Pastor J. B. Prennthaler SJ—seorang pastor Paroki St. Theresia Lisieux di Boro—mengajukan permohonan kepada pimpinan umum Kongregasi Bruder FIC di Maastricht, Belanda, agar mereka berkenan turut mengembangkan pelayanan di Boro. Dua tahun kemudian, permohonan tersebut disetujui dan pada 5 Agustus 1938 beberapa Bruder FIC tiba di Boro untuk mengambil alih pengelolaan sebuah panti asuhan putra yang sebelumnya dikelola secara sederhana oleh Bapak Martodiharjo, di mana anak-anak dititipkan pada keluarga sekitar karena keterbatasan fasilitas.

Pada tanggal tersebut, panti resmi dinamai Panti Asuhan Santa Maria, dan kelak ditetapkan sebagai hari kelahirannya. Keistimewaan panti ini adalah hanya diperuntukkan bagi anak laki‑laki, terutama dari latar belakang yatim‑piatu, keluarga miskin, atau broken home yang sering datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Papua.

Semangat pelayanan yang dihayati oleh para Bruder FIC menjadi fondasi pengelolaan panti. Mereka berupaya menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat, memperlakukan anak‑anak seperti bagian dari satu keluarga besar. Para pengasuh bertindak selayaknya orang tua: memberi perhatian, kebutuhan gizi, pendidikan yang memadai, membiasakan anak-anak rutin merawat lingkungan hidup bersama, mengembangkan keterampilan pribadi, serta membangun nilai saling mengasihi dan membantu satu sama lain di antara anak-anak panti.

Untuk memastikan pendampingan yang optimal, kehidupan harian mengikuti jadwal teratur dan rasa disiplin. Pendamping, yang terdiri dari bruder kepala panti dibantu oleh sekitar sepuluh bruder lainnya dan awam, bertanggung jawab secara kefungsional: administrasi, keuangan, pengembangan fisik, mental, sosial, spiritual, sarana prasarana dan humas.

Panti asuhan Santa Maria Boro lahir sebagai hasil konkret dari visi misi Romo Prennthaler: menciptakan karya pelayanan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan anak-anak yatim dan miskin, tetapi juga menanamkan nilai mandiri dengan dukungan pendidikan formal dan non-formal. Model pendampingan ini diharapkan menciptakan generasi penerus yang siap berkontribusi dalam masyarakat.

Terpujilah Yesus Kristus dan Maria Imakulata

Bersama beberapa anak-anak Panti Asuhan Santa Maria Boro
Bersama karyawan-karyawati Panti Asuhan Santa Maria Boro

SEMUA BERITA
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram