Oleh: Fr. Demacha Fibonanda
Pada tanggal 6 hingga 8 Juli 2026, suasana penuh sukacita dan semangat muda menyelimuti perjumpaan akbar Pelajar Katolik se-Keuskupan Agung Semarang (KAS). Acara tahunan yang telah memasuki edisi ke-46 ini dikenal sebagai Jaringan Komunikasi XLVI (JARKOM XLVI). Di bawah bimbingan dan tanggung jawab Romo Antonius Invarien Alpha Andriyanto, Pr, JARKOM XLVI sukses mengumpulkan 200 peserta yang merupakan representasi dari berbagai Organisasi Pelajar Katolik lintas paroki dan kevikepan di seluruh wilayah KAS. Adapun 5 frater OMI yang terlibat kegiatan ini adalah Fr. Fibo, Fr. Ara, Fr. Tino, Fr. Hendra, dan Br. Vian.
Tahun ini, JARKOM XLVI mengusung tema yang mendalam sekaligus menantang: “Ecclesia Vivens”, yang berarti Gereja yang Hidup. Berlandaskan pada Sabda Tuhan dalam 1 Korintus 3:9, kegiatan ini menegaskan kembali amanat luhur bahwa kaum muda bukanlah penonton pasif, melainkan bagian penting dan rekan kerja Allah dalam membangun Gereja yang aktif, dinamis, dan penuh sukacita.
Di tengah derasnya tantangan perkembangan zaman, arus globalisasi yang tak terbendung, serta krisis identitas yang kerap melanda generasi muda, JARKOM XLVI hadir bagaikan sebuah “oase”. Selama tiga hari berturut-turut, kegiatan ini dirancang secara khusus untuk menanamkan kembali nilai-nilai Katolik yang mengakar kuat, memperteguh iman, serta menyalakan semangat pelayanan, persaudaraan, dan kepedulian sosial di dalam diri setiap peserta.
Secara konkrit, JARKOM XLVI diselenggarakan demi mencapai tujuh pilar tujuan utama:
Melalui dinamika kelompok, refleksi iman, dan diskusi yang hidup sepanjang kegiatan, 200 pelajar Katolik ini diajak untuk bertransformasi. JARKOM XLVI bukan sekadar sebuah acara seremonial, melainkan sebuah gerakan awal.
Ketika melangkah pulang dari kegiatan ini, para peserta diharapkan telah bertumbuh menjadi pribadi yang beriman teguh, tangguh secara karakter, serta siap pulang ke daerah masing-masing sebagai pelopor Gereja yang hidup (Ecclesia Vivens) demi membawa kebaikan, kasih, dan kesejahteraan yang nyata bagi sesama.
Tulisan ini diambil berdasarkan wawancara bersama Sdri. Agnes Tyas Nugraheni