BLOG

&

POST

Natal sebagai Rumah

January 10, 2026

Pengalaman Bersama Keluarga Seminari OMI di Yogyakarta

Oleh: Cristina Desy Verawaty (PPDM Yogyakarta)

Natal selalu identik dengan keluarga, kebersamaan, dan kasih. Namun bagi saya, seorang perantau yang telah satu setengah tahun tinggal dan menempuh studi di Yogyakarta, natal tahun ini terasa berbeda. Sudah hampir dua tahun bahkan menuju tiga tahun saya tidak merayakan natal bersama keluarga di rumah. Kerinduan itu tentu ada, tetapi natal kali ini saya jalani dalam kebersamaan bersama para frater, bruder, serta Putra-Putri De Mazenod (PPDM). Dari pengalaman inilah saya menemukan makna natal yang lebih dekat, sederhana, dan nyata.

Rangkaian kegiatan natal ini berlangsung dari tanggal 25 hingga 30 Desember 2025. Selama beberapa hari tersebut, kami mengunjungi berbagai tempat, mulai dari rumah para romo OMI, biara-biara, rumah sakit, hingga rumah kenalan lainnya. Kegiatan ini dijalani dengan penuh sukacita. Walaupun cukup melelahkan, kebersamaan yang terbangun membuat setiap perjalanan terasa ringan dan menyenangkan. Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah saat berkunjung ke biara susteran. Sambutan hangat para suster membuat suasana terasa akrab, seperti berada di rumah sendiri. Dari perjumpaan sederhana itu, saya belajar bahwa semangat natal terwujud dalam sikap saling menyambut dan berbagi kasih, sebagai tanda kehadiran Tuhan dalam kesederhanaan. Kami juga sempat menjenguk seorang kerabat yang sedang sakit serta mengunjungi rumah sakit. Dalam keheningan dan doa, saya merasakan bahwa natal hadir bukan lewat kemegahan, melainkan melalui perhatian dan kehadiran yang tulus. Di situlah saya belajar bahwa natal bukan hanya tentang menerima berkat, tetapi juga tentang berbagi kasih dan solidaritas.

Kunjungan Natal Frater dan Bruder OMI bersama PPdM Yogyakarta ke rumah keluarga Rm. Maryanto

Selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini, saya semakin mengenal para frater, bruder, dan anggota PPDM lainnya. Kebersamaan yang terjalin terasa hangat dan akrab. Meskipun kami datang dari latar belakang yang berbeda, kami dipersatukan oleh iman yang sama. Di tengah kebersamaan itu, tumbuh rasa kekeluargaan yang alami dan saling menguatkan. It truly felt like family. Sebagai seorang perantau yang jauh dari keluarga kandung, pengalaman natal ini menjadi anugerah yang sangat berharga. Di tengah kerinduan akan rumah, Tuhan menghadirkan keluarga iman yang memberi rasa aman, penerimaan, dan penguatan. Saya semakin menyadari bahwa keluarga tidak selalu ditentukan oleh ikatan darah, tetapi juga oleh kebersamaan dalam iman dan kasih.

Melalui pengalaman natal bersama keluarga OMI di Yogyakarta ini, saya belajar bahwa natal bukan hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi dihidupi dalam kebersamaan, kepedulian, dan solidaritas terhadap sesama. Di sanalah kasih Tuhan menjadi nyata hadir dalam perjumpaan sederhana dan hati yang mau berbagi. Dalam semangat natal dan spiritualitas OMI, pengalaman ini mengajak saya untuk terus menghadirkan kasih Kristus, terutama kepada mereka yang kecil, lemah, dan membutuhkan, sebagai wujud nyata dari iman yang dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Kunjungan Natal Frater dan Bruder OMI bersama PPdM Yogyakarta di rumah keluarga Pak Juven ( adek Romo Toro OMI )
SEMUA BERITA
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram