BLOG

&

POST

OMI: KALAU PANGGILAN ITU SERIUS, JALAN KAKI 221 KM PUN DITEMPUH

June 10, 2025

"Kita semua adalah peziarah di dunia ini, dipanggil untuk melangkah bersama, saling menopang dalam pengharapan" (Tema Tahun Yubelium Gereja Katolik 2025)

Dalam dunia yang semakin sibuk, praktis dan digital, sekelompok pemuda justru memilih jalan yang tak biasa. Mereka melepaskan diri dari kenyamanan, meletakkan alat komunikasi, dompet dan bahkan identitas religius mereka, demi sebuah perjalanan yang memperdalam iman.

Merekalah para novis Oblat Maria Imakulata (OMI). Tahun ini, sebagai bagian dari proses formasi rohani, mereka melaksanakan retret peregrinasi - sebuah ziarah jalan kaki sejauh 221 kilometer dari Gua Maria Jati Segara Wening di Tegal menuju Taman Doa Maria Oblat di Novisiat OMI, Blotan, Sleman, Yogyakarta, dari tanggal 02-10 Juni 2025.

Di tengah semangat Tahun Yubelium 2025, yang mengangkat tema "Peziarah Harapan dalam Kebersamaan", retret ini menjadi gambaran nyata bagaimana panggilan Kristiani sungguh berarti: berjalan bersama, saling menopang, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan penyelenggaraan-Nya.

Menjadi Peziarah Sejati

Retret peregrinasi para novis ini bukan sekadar latihan fisik atau petualangan rohani. Ini adalah sekolah iman di jalan raya, di mana para novis diajak untuk:

  • Berjalan kaki tanpa kendaraan sejauh 221 km, di bawah terik matahari dan guyuran hujan
  • Berpuasa dari kenyamanan: tanpa membawa uang, tanpa alat komunikasi, tanpa peta digital
  • Menjadi peziarah anonim: tidak diperkenankan memperkenalkan diri sebagai frater atau bruder novis OMI
  • Mengandalkan sepenuhnya kebaikan sesama dan rahmat Allah: untuk makan, tempat berlindung, dan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan

Mereka bermalam di mana saja yang terbuka bagi peziarah:

  • Masjid, mushola, balai desa/dusun, kantor polisi
  • Beristirahat siang di SPBU, emperan rumah, atau di bawah rindangnya pohon.

Tidak semua tempat terbuka dengan mudah. Ada penolakan, sikap acuh tak acuh. Ada keharusan melanjutkan perjalanan dengan kaki yang makin terasa sakit dan tubuh lelah. Ada malam yang harus dijalani tanpa alas tidur yang memadai. Namun dalam keterbatasan itu, para novis belajar: Allah hadir, justru dalam keheningan, dalam kesederhanaan, dan dalam tangan-tangan manusia biasa yang bermurah hati.

"Kita bukan dari dunia ini. Kita adalah para peziarah yang harus berjalan dalam terang Injil, membawa harapan ke tempat paling sunyi dan paling miskin" - St. Eugenius de Mazenod

Peziarah Harapan dalam Kebersamaan

Retret ini menjadi inkarnasi nyata tema Tahun Yubelium 2025: Peziarah Harapan dalam Kebersamaan.

  • Para novis bukan berjalan sendiri. Mereka berjalan bersama, saling menopang saat salah satu kelelahan, saling menguatkan di tengah rasa lapar atau haus.
  • Mereka belajar bahwa hidup religius dan hidup kristiani sejatinya adalah perjalanan bersama dalam iman - bukan pencapaian pribadi. Tanpa nama, tanpa gelar, tanpa identitas institusional, mereka belajar hadir sebagai manusia biasa di tengah dunia yang juga sedang berjalan mencari pengharapan.
  • Di jalanan, mereka merasakan jembatan kemanusiaan yang melampaui sekat agama dan golongan: ditolong oleh umat Islam yang membuka pintu masjid, oleh pedagang warung kecil yang menawarkan makanan sederhana, oleh warga desa yang mengizinkan mereka bermalam.

Retret ini menjadi pengingat bawa Gereja bukan bangunan megah, melainkan komunitas peziarah yang berjalan bersama, melintasi batas-batas, dengan hati yang terbuka pada Allah dan sesama.

"Kita harus berani pergi ke tempat di mana orang-orang tidak lagi mendengar suara Gereja. Dan untuk itu, kita harus menjadi orang-orang yang rendah hati, miskin, dan penuh semangat kasih" - St. Eugenius de Mazenod

Pelajaran Misioner

Sebagai calon misionaris Oblat Maria Imakulata, para novis ditantang:

  • untuk mendengarkan lebih daripada berbicara
  • untuk melayani lebih daripada mencari pengakuan
  • untuk percaya pada penyelenggaraan Ilahi daripada kemampuan diri sendiri

Di perjalanan ini, mereka mengalami sendiri bahwa misi Gereja lahir dari perjumpaan manusiawi yang otentik - dari kesediaan untuk hadir di tengah dunia, bukan sebagai 'orang berstatus', tetapi sebagai saudara di jalan kehidupan.

Ajakan Terbuka: Mari Bergabung dalam Perjalanan Ini

Semangat hidup OMI adalah menjadi misionaris di tengah dunia yang terluka dan haus akan pengharapan. Melangkah di jalan yang kadang sulit, membangun jembatan kasih, menghadirkan wajah Allah yang penuh belaskasih.

Bagi siapa saja yang merasakan panggilan untuk hidup sebagai peziarah harapan dalam kebersamaan, untuk menjadi misionaris di jalan hidup manusia, OMI membuka tangan dan hati.

Karena seperti yang dialami para novis dalam retret ini, misi sejati bukan soal sejauh apa kita melangkah, melainkan sejauh mana kita berani memperdayakan hidup kita sepenuhnya kepada Allah - dan berjalan bersama saudara-saudari kita.

"Berbahagialah mereka yang berziarah dengan hati penuh pengharapan, karena mereka akan melihat wajah Allah dalam setiap langkah mereka"

SEMUA BERITA
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram