BLOG

&

POST

Refleksi Pengalaman Ambulasi dan Pekerjaan Rumah

July 20, 2025

Br. Richard -- Br. Deni -- Br. Rizki -- Fr. Suni

Pengantar

 Selama sepekan ini khususnya pada pagi hari, kami (para frater dan bruder) mengerjakan sebuah proyek membersihkan dinding kapel dari cat yang sudah terkelupas, supaya pada saat dicat ulang bisa mendapat hasil yang baik dan rapi. Selain itu, kami juga membuat kandang ayam. Pada sore hari, kami diberi kesempatan untuk ambulasi (jalan-jalan keluar biara) untuk melihat secara langsung realita kehidupan di luar tembok biara seperti apa. 

Membersihkan Dinding

Tindakan menggosok dinding jika dilihat secara manusiawi mungkin merupakan hal yang membosankan dan menjenuhkan, tetapi jika dilihat lebih dalam ternyata terdapat nilai yang begitu dalam untuk dapat direfleksikan. Mengamplas cat adalah pekerjaan kasar, berdebu, dan tampaknya sepele. Namun ketika dilihat dari sudut pandang yang lain memancarkan simbolisme rohani yang sangat mendalam. Dalam setiap gesekan amplas terhadap permukaan yang kasar, kami merefleksikan secara spiritual tentang pemurnian, kesabaran, dan kasih yang mengubah.

Dalam pengerjaan itu, kami merefleksikan bahwa Allah begitu mengasihi manusia. Kasih Allah begitu besar kepada manusia dan pengampunannya hadir setiap hari. Kasih dan pengampunan Allah tersebut sungguh kami rasakan dan alami. Ketika bekerja menggosok dinding kami belajar untuk semakin melihat kasih dan pengampunan Allah. Kasih dan pengampunan Allah tanpa batas bagi siapa saja tanpa mengenal status ataupun kondisi orang tersebut.

Kami merefleksikan bahwa kasih dan pengampunan Allah yang kami jumpai dalam menggosok dinding ialah kami seperti dinding yang sudah kusam dan perlu diperbaharui supaya enak dipandang dan membuat yang menghuni rumah tersebut merasa nyaman. Ketika menggosok dinding, kami menemukan bahwa tidak semua cat kusam mudah dibersihkan dan ada juga yang mudah dibersihkan. Setelah digosok (bagian yang mudah dan sulit) dinding menjadi halus dan siap di cat ulang. Kami merefleksikan dinding itu sebagai pribadi yang memerlukan kasih dan pengampunan dari Allah. Kasih dan pengampunan Allah memperbaharui hidup kami layaknya dinding yang kusam dibersihkan di cat ulang sehingga menjadi enak dipandang. Situasi kusam, cat terkelupas merupakan gambaran masa lalu atau pengalaman kelam, luka, dan kedosaan. Kami menemukan gambaran diri terkadang seperti dinding yang kusam dan cat yang sulit terkelupas, kami yang terjebak dalam masa lalu dan situasi sulit. Sedangkan dinding yang kusam dan mudah terkelupas itulah gambaran pengalaman kelam yang mudah diolah dan menjadi kekuatan dalam menjalani masa kini, semua itu menjadi mudah karena kasih dan pengampunan Allah.          

Dalam menjalani masa formasi kami belajar untuk mengelupas cat-cat masa lalu yang ada dalam diri kami untuk dibaharui dan dijadikan baru, memang ada yang mudah dan ada yang sulit, tetapi perlahan demi perlahan, kami berusaha belajar untuk mengelupas cat-cat lama yang tidak baik dan kusam dalam diri kami untuk dipersiapkan serta dibekali dengan cat-cat yang baru dalam diri kami untuk menjadi seorang misionaris yang mewartakan Injil di mana pun kami diutus. 

Refleksi Ambulasi

Dalam kesempatan ini kami berjalan ke Tambak Boyo, dan ke Wisdom UGM melihat dan mengamati realita kehidupan masyarakat di sana. Pada kedua tempat ini kami melihat langsung bagaimana realita kehidupan masyarakat. Bagaimana mereka berjuang mencari nafkah untuk bertahan hidup, ada yang memancing di tambak untuk menghilang stres, ada yang bersantai hanya sekedar melepas lelah sambil menikmati senja, dan ada banyak juga orang-orang muda yang sedang joging

Kesempatan jalan-jalan ke luar biara bukan hanya sekedar refreshing, melainkan sebuah kesempatan untuk belajar dari orang-orang yang kami jumpai di jalan, dengan berbagai realita kehidupan mereka. Dari pengalaman ini, kelompok mendapat pelajaran berharga tentang kesederhanaan, pantang menyerah, dan cinta yang tulus. Pengalaman ini membuka mata kami terkait realita kehidupan masyarakat. Banyak orang berjuang keras demi kehidupan dan masa depan mereka. Ketika melihat realita yang ada, muncul pertanyaan. Sebagai biarawan “What can we do to help them?”  and “how can we share the good news to them? “. Pengalaman ini mendorong kami untuk bersemangat dan tekun membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman sebagai sarana untuk melayani Tuhan yang hadir dalam diri orang-orang kecil dan terlantar atau mereka yang mengalami kesulitan. 

Kami bersyukur atas pengalaman selama sepekan ini, khususnya pengalaman ambulasi (jalan-jalan keluar biara) untuk melihat langsung realita kehidupan masyarakat. Dari pengalaman selama sepekan ini, kami mendapat banyak pelajaran berharga tentang kehidupan. Dengan melihat dan mengamati realita hidup zaman sekarang, kami belajar tentang apa yang menjadi tantangan dan masalah yang sering dialami khususnya oleh anak-anak muda zaman sekarang di tengah kemajuan teknologi dan zaman. Banyak tuntutan yang harus dipenuhi agar bisa mengikuti perkembangan zaman. Kemajuan dan perkembangan zaman dengan segala tuntutannya membuat banyak anak muda yang stres atau depresi hingga akhirnya ada yang sampai bunuh diri. Begitulah realita kehidupan anak-anak muda zaman sekarang.

Melihat banyak para mahasiswa dan siswi yang bersantai maupun berolahraga, kami merasa senang, dengan bersantai dan berolahraga membantu menghilangkan stres karena tugas-tugas kuliah ataupun pekerjaan. Kami juga refreshing pikiran dan kembali membangkitkan semangat dalam menjalani panggilan sebagai Oblat. Realitas kehidupan di luar yang kami lihat mengajarkan untuk selalu bersyukur atas segala fasilitas yang diberikan oleh kongregasi dan komunitas. 

Pada hari kamis kami tidak sempat ambulasi bersama karena tiga anggota lainnya berhalangan untuk ikut. Pada kesempatan ini saya ambulasi sendiri dengan bersepeda keliling daerah Jogja. Melintasi jalanan yang ramai di daerah jogja membuat saya merenung betapa banyaknya orang yang melakukan kesibukannya masing-masing. Melihat ramainya daerah Yogja saya juga merenungkan bahwa di dunia ini sangat banyak penduduknya dan memiliki tanggung jawab yang penting untuk dikerjakan demi kehidupan jangka panjang.

Saya sangat menikmati bersepeda di daerah Jogja, karena sore hari cuacanya sangat mendukung dan udaranya masih terasa segar. Menikmati perjalanan sambil mengayuh sepeda mengingatkan saya ketika di Yuniorat. Kami sering mengendarai sepeda setiap bepergian. Kenangan itu terulang kembali di masa sekarang membuat saya sangat gembira karena kembali mengingat pengalaman awal menapaki panggilan hidup sebagai seorang Oblat. Saya tidak merasa kecil dari orang-orang muda yang hari-harinya mengendarai motor atau mobil, kendati saya hanya mengendarai sepeda namun sudah membuat saya senang dan sehat. Kesempatan yang sederhana saya lalui dengan rasa syukur. Saya berani menyangkal diri dengan mengendarai sepeda.

Saya menikmati perjalanan ambulasi. Sambil bersepeda saya merenung juga dengan panggilan hidup yang saya jalani dan saudara komunitas hidupi. Pada zaman modern kami masih berani mengambil langkah yang berbeda dari kebanyakan orang yaitu menjadi religius. Panggilan yang memang tidak mudah karena dari sini setiap anggota harus bisa menyangkal diri demi suatu tujuan yakni kemuliaan nama Tuhan. Melawan keinginan diri di masa sekarang ini tentu membutuhkan proses yang panjang. Maka rumah formasi menjadi wadah untuk menghidupi setiap proses dalam mencapai tujuan yang sudah pasti yakni kehidupan kekal. Maka dengan melihat suasana di luar yang begitu ramai saya dapat merenungkan panggilan dalam keheningan sembari mengayuh sepeda. Saya rasa ini adalah buah latihan dari awal masuk OMI hingga sekarang ini. Namun saya rasa ini bukanlah akhir dalam sebuah formasi tetapi akan selalu berlanjut terus-menerus sampai mati.

Saya merasa bersyukur Tuhan memanggil saya dan rekan sekomunitas untuk menjadi rekan se-pekerja Allah dalam Kongregasi OMI. Dalam mendalami latihan rohani ternyata tidak hanya dirasakan dalam komunitas tetapi di luar komunitas. Semoga kasih Tuhan dalam membimbing kami yang sedang dalam masa formasi terus membantu tetap setia dan teguh sehingga kami tidak mudah terjerumus pada hal-hal duniawi yang bisa saja membawa kami pada jurang kekelaman terkhusus di masa formasi kami.

Membuat Kandang Ayam

Membuat kandang ayam tampak sederhana namun menyimpan makna mendalam, tidak hanya secara praktis tetapi juga secara spiritual dan sosial. Kandang ayam bukan sekadar tempat bagi ayam, tetapi simbol dari perhatian manusia terhadap ciptaan dan kesejahteraan bersama.

Manusia diberi mandat oleh Allah untuk mengusahakan dan memelihara ciptaan, termasuk binatang dan alam sekitar… “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej 2:15). Ketika kami membantu membangun kandang, sedang mengambil bagian dalam tugas ilahi tersebut-menjadi rekan kerja Allah dalam menjaga kehidupan. Kandang menjadi wujud nyata tanggung jawab manusia atas makhluk hidup lain, memberikan mereka tempat yang aman dan layak.

Before
After

Bekerja bukan semata aktivitas fisik, tetapi juga perjumpaan antarpribadi, ruang untuk menghayati nilai persaudaraan dan kebersamaan demi kebaikan bersama. Yesus sendiri dalam hidup-Nya dikenal sebagai anak tukang kayu (lih. Mat 13:55). Ia bekerja, bukan hanya untuk hidup, tetapi juga untuk menjadi bagian dari masyarakat dan memberi teladan kerja keras yang bermartabat. Dengan membuat kandang, kami sedang mengikuti jejak Yesus, melalui pekerjaan tangan-Nya turut membangun kehidupan.

Kami merefleksikan sikap memperhatikan kehidupan ternak adalah bagian dari etika ekologis dan spiritualitas integritas ciptaan. Hewan adalah bagian dari ciptaan Tuhan. Menyediakan tempat tinggal yang layak bagi mereka juga merupakan wujud cinta kasih konkret terhadap yang lemah dan tak bersuara.

Penutup

Kegiatan membuat kandang dan membersihkan dinding bukan hanya pekerjaan fisik, melainkan tindakan spiritual dan sosial. Kami merefleksikan bahwa melalui pekerjaan, kami sedang menanggapi panggilan untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab atas ciptaan, membangun relasi dengan sesama, dan menjadi rekan kerja Allah dalam membangun dunia yang lebih adil dan berbelas kasih.

Kegiatan ini mengingatkan kami bahwa panggilan religius tidak melulu soal doa dan belajar, tetapi juga tentang mewujudkan kasih Allah dalam kerja konkret, dalam peluh dan tanah, dalam paku dan palu. Kerja fisik yang kami lakukan ini pun menjadi bagian dari persembahan saya kepada Allah.

Tubuh manusia bukan hanya alat, melainkan partisipasi dalam karya penyelamatan.Seperti dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam Laudato Si. “Kerja adalah bagian dari makna hidup di dunia ini, sarana pertumbuhan, pengembangan pribadi dan pemenuhan hidup manusia” (LS art. 98). Maka, bekerja menjadi wujud nyata dari keterlibatan kami dalam panggilan untuk melayani, membentuk diri, dan memuliakan Allah melalui kerja tangan.

“Kerja adalah bagian dari makna hidup di dunia ini, sarana pertumbuhan, pengembangan pribadi dan pemenuhan hidup manusia” - Laudato Si art 98

Mengamplas bukan hanya membersihkan permukaan dinding. Ini adalah bentuk co-creatio—kerjasama manusia dalam menciptakan tatanan baru. Dalam proses ini, kami ikut menebus kekacauan menjadi keteraturan, kekasaran menjadi keindahan, sebagaimana Kristus mengubah salib menjadi sumber keselamatan.

Karl Marx, melihat realitas kerja bukan sekadar upaya ekonomis, tetapi ekspresi dari manusia sebagai makhluk produktif. Karl Marx mengingatkan tentang alienasi, yakni keterasingan manusia ketika kerja dipisahkan dari makna. Maka dalam membuat kandang dan membersihkan dinding secara sadar, kami diajak untuk tidak hanya "mengikuti perintah", tetapi mengalami kerja sebagai ekspresi kehendak bebas dan martabat saya sebagai pribadi.

Selain bekerja manusia juga perlu refreshing supaya tidak merasa jenuh. Kami mau menjumpai realitas orang-orang yang berada di luar tembok biara. Kelompok merefleksikan ketika berjalan keliling Jogja, kami sedang meneladan Yesus yang berjalan menyusuri desa dan kota, menyapa orang sakit, berbicara dengan orang berdosa, dan hadir di tengah kerumunan. Religius keliling kota menjadi simbol kehadiran Gereja yang keluar. Kita tidak hanya menunggu orang datang ke Gereja, tetapi Gereja sendiri yang melangkah ke tengah dunia, menjumpai mereka yang jauh dan terlupakan.

Berjalan keliling kota bukan sekadar kegiatan jasmani. Dalam terang filsafat, itu adalah tindakan eksistensial dan reflektif, di mana tubuh manusia berinteraksi dengan ruang, waktu, dan makna. Di balik langkah yang terlihat biasa, terjadi perjumpaan antara subjek dan dunia, antara manusia dan sesamanya, antara aku dan kota sebagai ruang hidup bersama.

Filsafat eksistensialisme melihat tindakan berjalan sebagai bentuk kebebasan: manusia menolak diam dan pasrah, dan memilih untuk hadir, menjelajah, dan mencari makna. Sartre melihat bahwa eksistensi mendahului esensi-manusia tidak ditentukan oleh tempat atau posisi sosial, tetapi oleh tindakan konkret yang ia pilih. Emmanuel Levinas mengajarkan bahwa etika dimulai dari perjumpaan dengan wajah liyan. Jalan keliling kota mengantar kami melihat wajah-wajah yang sering tak terlihat: orang kecil, pengemis, pekerja, pedagang, orang asing. Melalui tatapan dan kehadiran mereka, tanggung jawab etis lahir.

Berjalan keliling Jogja bukanlah pelarian dari rutinitas. Tindakan berjalan keliling Jogja merupakan praktik kesadaran, etika, dan pencarian makna. Kami melawan keterasingan modern dengan hadir secara utuh dalam ruang, menjumpai sesama, dan membuka diri pada pertanyaan-pertanyaan besar: Siapakah aku? Di mana aku berada? Untuk siapa aku berjalan? Friedrich Nietzsche pernah berkata “Semua pikiran besar lahir saat berjalan.” Maka, mari kita berjalan bukan hanya dengan kaki, tapi juga dengan kesadaran. Bukan hanya untuk berpindah tempat, tapi untuk menemukan diri, sesama, dan mungkin… Tuhan.

SEMUA BERITA
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram