Fr. Charles; Fr. Hoscea; Fr. Ibau
Salam pembaca, Fr. Ibau OMI, Fr. Charles OMI, dan Fr. Hoscea OMI akan berbagi pengalaman perjalanan selama empat hari dalam rangka Ambulasi Kelompok di beberapa lokasi penting yaitu: Tambakboyo, Green Kayen, Lembah UGM, dan Stadion Maguwoharjo. Setiap tempat yang dikunjungi telah memberikan kesempatan unik dan baik untuk merenung serta bertumbuh secara rohani. Tujuan yang akan dicapai dalam Ambulasi Kelompok adalah berusaha memaknai aspek spiritual dan sosial yang terjadi di dalam dimensi masyarakat setempat.
Hari Pertama, Senin, 7 Juli 2025, Lokasi Embung Tambakboyo memberikan kesan keindahan alamnya yang beragam serta memberi kesempatan untuk merenungkan keagungan segala ciptaan Tuhan ciptaan Tuhan. Sesuai dengan penggambaran Mazmur 104:24 “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya Tuhan, semuanya Kau Buat dengan kebijaksanaan; bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” Suasana yang tenang dan damai memungkinkan untuk melakukan doa, merenungkan tentang makna hidup, serta mencari bimbingan Roh Kudus. Segala kebijaksanaan Tuhan nampak dalam segala ide dan bentuk nyata Embung Tambakboyo. Roma 1:20 "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." Paulus telah memberikan sebuah pengingat yang amat penting bagi jemaat di Roma bahwa melalui keindahan ciptaan Nya, manusia dapat melihat dan merasakan kehadiran Tuhan yang nyata dan tak terbatas.
Hari Kedua, Selasa, 8 Juli 2025, Lokasi Green Kayen memberikan nuansa hijau yang melambangkan pertumbuhan dan kesegaran alami. Keindahan alam yang asri, suara gemericik air, dan hijaunya pepohonan menjadi sakramen alami yang menyatakan kasih dan kebesaran Tuhan. Seperti yang tertulis dalam Mazmur 104:24 “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, semuanya Kau buat dengan hikmat, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” Alam bukan sekadar latar, melainkan pewahyuan kasih Allah yang mengundang manusia untuk bersyukur dan bertanggung jawab. 2 Korintus 5:17 "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Paulus kembali menyatakan makna pembaharuan dan pertumbuhan rohani dalam memelihara segala ciptaan Nya, serta sebuah pengingat akan hidup baru dalam iman.

Hari Ketiga Kamis, 10 Juli 2025, Lokasi Lembah UGM. Lingkungan akademis di Lembah UGM telah memberikan sebuah kesempatan untuk merenungkan pencarian pengetahuan dan kebenaran. Diskusi akademik dan moral tentang bagaimana keindahan, pengetahuan, dan pemahaman manusia tentang kehidupan saling berhubungan telah melahirkan pemahaman yang baik dalam konteks ekologi yang nyata. Hal ini merupakan waktu yang berharga untuk mengamati, merenungkan, dan menggali lebih dalam tentang keindahan, kehidupan, dan kecerdasan, serta bagaimana semuanya saling melengkapi. Amsal 2:6 "Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian." Penulis teks Amsal berusaha menegaskan bahwa segala pengetahuan dan kebijaksanaan sejati berasal dari Tuhan serta telah menginspirasi manusia untuk terus mencari kebenaran dalam setiap aspek kehidupan.
"Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian." Amsal 2:6
Hari Keempat Jumat, 11 Juli 2025, Lokasi Stadion Maguwoharjo. Keramaian yang terjadi di Stadion Maguwoharjo telah menjadi tempat yang baik untuk merenung perihal kebersamaan dan dinamika komunitas. Kami merenungkan bagaimana setiap orang dapat berpartisipasi dalam komunitas dan berkontribusi untuk kebaikan bersama. Di tengah keramaian Stadion sebagai kesatuan komunitas dalam kelompok Ambulasi dapat merasakan kekuatan kebersamaan dan pentingnya saling mendukung dalam perjalanan iman. Ibrani 10:24-25 "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." Penulis Kitab Ibrani berusaha menekankan pentingnya kebersamaan, saling mendukung, dan aktif berpartisipasi dalam komunitas iman untuk saling menguatkan. Dinamika kebersamaan selama perjalanan Ambulasi sangat penting. Interaksi, diskusi, dan pengalaman bersama di setiap lokasi memperkaya perjalanan rohani dan telah membentuk ikatan persaudaraan yang mendalam.
Perbedaan karakteristik setiap tempat dari ketenangan Tambakboyo hingga hiruk pikuk Stadion Maguwoharjo telah menunjukkan bagaimana kebersamaan dapat terjalin dalam berbagai situasi. Perjalanan empat hari dalam program Ambulasi Kelompok ke lokasi Tambakboyo, Green Kayen, Lembah UGM, dan Stadion Maguwoharjo menawarkan refleksi mendalam dan beragam. Setiap lokasi berusaha memberikan perspektif unik tentang perjalanan diri penulis. Dengan memahami dinamika kebersamaan dan tujuan perjalanan di setiap lokasi, penulis dapat memperkaya pengalaman dan menemukan makna yang lebih dalam dalam hidup. Perjalanan ini bukan hanya tentang tujuan akhir, tetapi juga tentang setiap langkah yang penulis ambil serta membawa kepada lebih dekat kepada Tuhan, sesama, dan alam sekitar.
Selama 4 hari ini kelompok mengadakan ambulasi ke berbagai tempat, mulai dari yang terdekat hingga yang lumayan jauh. Dengan mengayuh sepeda kami pergi menuju Tambak Boyo sebagai tempat tujuan pertama mengawali ambulasi ini, sebuah tempat yang tidak asing lagi. Sebagaimana umumnya tempat ini menjadi pilihan untuk olahraga dan memancing. Begitu banyak anak muda yang memilih jogging di tempat tersebut selain karena track yang bagus tapi juga tidak jarang menyuguhkan view yang cukup indah di sore hari. Selain itu terdapat juga kelompok yang menggunakan lokasi tambak ini untuk menuangkan hobi memancing mereka. Keesokan harinya penulis memilih tempat yang sedikit lebih jauh dari rumah menuju ke arah Kaliurang.
Green Kayen merupakan salah satu tempat yang pernah penulis kunjungi sewaktu masih Pranovis dan kini rasanya seperti mengulang kembali perjalanan bersama angkatan di waktu itu. Tempat kini sudah kurang diperhatikan lagi sehingga tidak banyak orang yang berkunjung, selain dialihfungsikan sebagai tempat pertemuan dengan berdirinya sebuah gazebo. Setelah itu penulis kembali melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah tempat untuk berenang, sebuah pengalaman yang menyenangkan. Sepeda kembali dikayuh lagi pada hari berikutnya, dengan semangat penulis menuju lembah UGM. Alasan memilih tempat ini karena penulis belum pernah kesana padahal cukup populer di kalangan mahasiswa. Di sana ada begitu banyak anak muda juga yang sudah berumur menghabiskan waktu untuk olahraga atau sekadar jalan-jalan menikmati waktu bersama. Tempatnya cukup luas sehingga membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memutari area tersebut, setelah mengitari area tersebut walau tidak semuanya penulis memutuskan untuk pulang. Keesokannya harinya penulis kembali memilih tempat yang tidak terlalu jauh maka area Maguwo menjadi opsi yang tepat bagi penulis. Setelah mengitari stadion Maguwo penulis memutuskan untuk menuju ke luar dan menuju ke tempat-tempat kuliner. penulis menyempatkan diri untuk mencicipi bakso tenis sembari menikmati ramainya suasana pasar malam.

Bakso Tennis Maguwoharjo
Sepanjang perjalanan ambulasi ini mulai dari hari pertama hingga berakhirnya penulis menyadari satu hal yang cukup memprihatinkan di tengah situasi masyarakat saat ini. Persoalan mengenai sampah kami percaya telah menjadi polemik yang mestinya mendapat perhatian serius dari seluruh masyarakat. Persoalannya adalah bahwa masih ada begitu banyak orang yang masih keliru dalam mengolah sampah. Peliknya persoalan sampah di Indonesia dikarenakan kebanyakan orang masih menggunakan pola lama seperti, tidak memilah sampah organik dan anorganik ketika hendak dibuang ke tempat sampah dengan dalih akan dipilah oleh petugas kebersihan padahal sama sekali tidak. Sampah yang tercampur lama kelamaan akan menyebabkan bau yang tidak sedap dan mencemari lingkungan. Situasi ini belum seberapa jika dibandingkan dengan beberapa orang yang tetap memilih untuk membuang sampah tidak pada tempatnya. Tantangan lain yang selama ini barangkali kurang disorot adalah peran serta produsen dalam menggunakan plastik sebagai wadah makanan misalnya.
Dalam kesempatan ambulasi ini penulis menemukan bahwa ada begitu banyak tempat makan yang masih menyediakan sampah-sampah plastik dalam penyajiannya. Dengan demikian kita bisa melihat bahwa persoalan sampah ini perlu keterlibatan semua pihak tidak hanya dari konsumen tapi juga produsen dan yang tidak kalah penting ialah peran serta pemerintah dalam menanggapi hal ini. Jika kita mengamati sosial media saat ini ada begitu banyak akun yang seringkali membuat konten berkaitan dengan lingkungan hidup. Sebut saja misalnya Pandawa Group, dengan beberapa anggota mereka telah memperjuangkan keberlangsungan lingkungan hidup menjadi lebih baik, atau Benedict Wermter seorang warga Jerman yang sangat peduli terhadap lingkungan Indonesia, seringkali mengangkat isu-isu lingkungan di akun instagramnya. Sebagai manusia, sangat sulit dibayangkan hidup tanpa adanya bantuan atau peran serta alam sebagai saudara dan saudari dalam ciptaan. Kendati menghadapi kenyataan tersebut rupanya masih banyak orang yang menutup mata terhadap alam dengan merusaknya.
Kini dampaknya dapat dirasakan oleh semua makhluk hidup. Dengan memahami makna terdalam dari tahun Yubelium kami berharap pembaca dapat mulai mengambil langkah konkret untuk mewujudkan pembaharuan ekologis. Yubelium bukan sekadar kunjungan porta sancta sebagaimana yang ramai dilakukan oleh kalangan umat saat ini. Di dalam tahun Yubileum ini Allah menghendaki bagaimana kita menjadi saudara bagi sesama ciptaan, bukan sekadar kunjungan porta sancta.

Perjalanan Ambulasi kelompok ini telah menjadi pengalaman spiritual yang memperdalam iman serta menggerakkan kesadaran ekologis. Keindahan alam yang tersaji tidak hanya menyentuh perasaan estetis, tetapi juga menjadi tanda kehadiran ilahi yang mengundang manusia untuk bersyukur dan bertanggung jawab atas ciptaan. Seperti tertulis
dalam Mazmur 104:24, seluruh alam adalah karya hikmat Allah yang patut dikagumi dan dijaga. Dalam terang Laudato Si’, kita diajak menyadari bahwa bumi adalah rumah bersama yang rentan dan membutuhkan cinta aktif dari setiap orang. Refleksi ini juga menyingkapkan bahwa merawat lingkungan bukan sekadar tanggung jawab moral, tetapi merupakan panggilan iman yang konkret. Seperti yang ditulis dalam 2 Korintus 5:17, iman kepada Kristus membawa pada hidup baru, termasuk cara baru memandang dan memperlakukan alam ciptaan. Situasi kerusakan lingkungan, seperti yang diamati dalam refleksi Ambulasi, menuntut pertobatan ekologis yang dimulai dari tindakan kecil dan kesadaran akan relasi kita dengan seluruh ciptaan. Pengalaman ini mengajak setiap orang untuk menjadikan spiritualitas ekologis sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan iman, serta memperkuat komitmen konkret dalam menjaga keutuhan ciptaan, demi generasi kini dan mendatang