BLOG

&

POST

Semakin Menemukan Karakter Manusia

June 7, 2026

Oleh: Fr. Kristian Delima Ajun OMI

Komunitas Yuniorat OMI melaksanakan ziarah jalan kaki ke Gua Maria Kaliori pada 26–27 Mei 2026 dalam rangka memaknai Bulan Maria. Perjalanan dimulai dari Yuniorat OMI Cilacap menuju Gua Maria Kaliori, Banyumas, dengan jarak sekitar 55 kilometer. Ziarah ini adalah bagian dari pembinaan karakter para seminaris. Dalam konteks formasi OMI, jalan kaki ini menghadirkan kesempatan untuk menemukan karakter seminaris dalam menghadapi tantangan, membangun ketahanan, dan menghayati kebersamaan dalam komunitas.

Pengalaman ziarah ini mengingatkan pada peziarahan bangsa Israel yang dipimpin oleh Musa selama empat puluh tahun di padang gurun (Bil.14:33-34). Dalam perjalanan tersebut, umat Israel menunjukkan berbagai dinamika kemanusiaan, seperti kesetiaan, ketekunan, persatuan, keluhan, kemarahan, kegagalan, dan harapan. Kisah tersebut menggambarkan bahwa kehidupan manusia selalu bergerak secara dinamis. Setiap perjalanan hidup menghadirkan situasi yang membentuk karakter serta menguji kedewasaan moral seseorang.

Secara filosofis, manusia memiliki martabat yang luhur karena dianugerahi akal budi dan kebebasan. Immanuel Kant menegaskan bahwa manusia memiliki nilai intrinsik. Rasio memungkinkan manusia untuk mengetahui, menimbang, dan menentukan pilihan hidup secara sadar. Oleh karena itu, manusia memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya. Dalam pengertian ini, manusia dapat dipahami sebagai homo sapiens (manusia yang mengetahui), homo sentiens (manusia yang merasakan), dan homo faber (manusia yang bertindak).

Dalam Ensiklik Magnifica Humanitas , Paus Leo XIV menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang tidak dapat dicabut karena manusia diciptakan, dikehendaki, dan dicintai oleh Allah. Martabat tersebut tidak bergantung pada keberhasilan, kegagalan, penghinaan, ataupun penerimaan sosial. Oleh sebab itu, setiap seminaris dipanggil untuk menghargai dirinya sendiri dan sesamanya sebagai pribadi yang memiliki nilai luhur di hadapan Tuhan. Kesadaran akan martabat ini menjadi dasar bagi pembentukan karakter dan tindakan moral yang bertanggung jawab.

Pemaknaan atas ziarah jalan kaki ke Gua Maria Kaliori menunjukkan bahwa karakter dan moral merupakan dua unsur yang saling melengkapi dalam kehidupan manusia. Thomas Lickona menjelaskan bahwa karakter yang baik terbentuk melalui tiga komponen utama, yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Pemikiran tersebut sejalan dengan falsafah masyarakat di pulau Jawa yang mengenal konsep ngerti(mengetahui), ngrasai(merasakan), dan nglakoni(melakukan). Perjalanan ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter harus melalui proses yang melibatkan pengetahuan, perasaan, dan tindakan. Ketika para seminaris menghadapi rasa lelah, panas, haus, dan keterbatasan fisik, para seminaris belajar untuk mengelola diri, menghargai sesama, dan bertanggung jawab terhadap tujuan bersama.

Dalam pengalaman ziarah, para seminaris terlebih dahulu memahami makna Bulan Maria, kemudian menghayati pengalaman tersebut secara batiniah, dan akhirnya mewujudkannya dalam tindakan nyata melalui perjalanan yang penuh perjuangan. Para Seminaris OMI dituntut untuk memiliki daya tahan dan daya juang yang memadai. Kongregasi Religius Misionaris Oblat Maria Imakulata adalah Kongregasi besar yang melayani lebih dari 73 negara dengan zona iklim menantang. Pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk memahami nilai pengorbanan, solidaritas, disiplin, dan ketekunan para misionaris perdana. Selain itu ziarah ini menjadi sarana pembentukan manusia yang mampu mengetahui yang baik, mencintai yang baik, dan melakukan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Para Yuniores dan Fr. Ajun tiba di Gua Maria Kaliori
Fr. Ajun dan Para Yuniores Misa di Kapel Wisma Kaliori
SEMUA BERITA
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram